Jumat ia di Kyiv bersama Zelensky. Sabtu malam ambulans menjemputnya dari rumahnya di Capitol Hill. Senator AS Lindsey Graham tutup usia pada 11 Juli 2026 dalam usia 71 tahun, setelah mengalami sakit mendadak yang belum dijelaskan secara resmi penyebabnya.
Kantor Graham mengonfirmasi kematiannya melalui akun X resmi pada Minggu (12/7/2026) pagi. Rekaman audio pemindai polisi yang beredar, awalnya diperoleh CBS, menyebut petugas darurat dikirim ke kediaman Graham untuk menangani kasus henti jantung. Tapi henti jantung itu kondisi yang ditangani petugas, bukan penjelasan resmi soal sebab kematian. Graham seharusnya tampil di program "Meet the Press" NBC News pada Minggu paginya. Ia tidak pernah sampai ke sana.
Kematiannya mengejutkan Washington bukan hanya karena mendadak. Graham adalah jenis senator yang hampir tidak pernah diam. Pertama kali terpilih sebagai anggota DPR AS pada 1994 mewakili Distrik Ketiga South Carolina, ia naik ke Senat pada 2002, lalu memenangi pemilihan ulang tiga kali lagi, 2008, 2014, dan 2020. Menjelang wafatnya, ia tengah bersiap mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima dalam pemilu paruh waktu musim gugur ini.
Di Senat, Graham menjabat Ketua Komite Anggaran dan memainkan peran krusial dalam salah satu pencapaian legislatif terbesar pemerintahan Trump: menggolkan paket besar soal pajak, imigrasi, dan belanja negara lewat mekanisme rekonsiliasi anggaran, karena Partai Republik tak punya 60 suara untuk melewati penghadangan di Senat. Proses itu butuh negosiasi berbulan-bulan. Graham ada di jantungnya.
Tapi nama Graham paling melekat pada satu hal: kebijakan luar negeri garis keras. Pro-Israel, pro-Ukraina, anti-Iran. Bukan sekadar retorika. Kunjungannya ke Kyiv pekan lalu adalah yang ke-10 sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022. Dalam pertemuan terakhir itu, ia dan Zelensky membahas kebutuhan pertahanan udara Ukraina serta rancangan undang-undang sanksi baru terhadap Moskow.
Zelensky menyebutnya "pembela sejati kebebasan" dan mengungkapkan bahwa Ukraina akan selalu berterima kasih atas pengakuannya terhadap rakyat dan keberanian para pembela Ukraina. Netanyahu merespons bersama sang istri Sara dengan pernyataan yang menyebut Graham sebagai "sahabat besar Israel dan sahabat saya yang sangat saya hargai". Presiden Israel Isaac Herzog, dalam kalimat yang jujur terasa personal, mengaku akan sangat merindukan Graham.
Tiga pekan sebelum wafat, Graham masih bicara blak-blakan soal Iran di "Face the Nation". Ia sudah memperingatkan bahwa upaya diplomatik Trump dengan Teheran kemungkinan akan kandas. "Jika upaya diplomatik ini gagal, Presiden Trump akan mengambil Selat Hormuz. Kami akan mengelolanya," ujarnya. Bukan ancaman kosong. Graham juga sempat menekan Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan agar bergabung dengan Abraham Accord sebagai bagian dari kesepakatan pasca-konflik Iran, langkah yang ia sebut bisa "paling transformatif bagi kawasan".
Hubungan Graham dengan Trump adalah salah satu kisah paling absurd sekaligus memikat dalam satu dekade terakhir politik AS. Pada 2016, ia menyebut Trump "demagog", "penghasut rasial", dan "fanatik agama", bahkan dengan enteng menyarankan Trump pergi ke neraka. Setelah 6 Januari 2021, ia bersumpah tidak mau dilibatkan lagi. Sebulan kemudian, ia membebaskan Trump di sidang pemakzulan. Sejak itu, Graham bergeser jadi salah satu pembela Trump paling setia di Senat. Dalam pidato bulan lalu ia bahkan bergurau: "Bapak Presiden, Anda tidak jauh berada di belakang Tuhan."
Waktu yang buruk untuk Partai Republik. Senator senior Mitch McConnell dilaporkan masih dirawat di rumah sakit karena alasan yang belum diungkapkan. Dua pilar lama Republik di Senat ambruk hampir bersamaan, tepat ketika agenda legislatif belum tuntas dan pemilu paruh waktu tinggal menghitung bulan.
Trump menulis di Truth Social bahwa Graham adalah "salah satu orang dan senator terhebat" yang pernah ia kenal, seorang patriot sejati yang akan sangat dirindukan. Kali ini, agaknya, tidak ada yang meragukan ketulusannya.