Lima orang tidak pernah kembali ke permukaan. Mereka masuk ke gua bawah laut dekat Pulau Alimatha, Vaavu Atoll, Maladewa, dan di sanalah semuanya berakhir.
Rombongan itu awalnya enam turis Italia yang berlibur sambil menyelam. Gua yang mereka pilih berada di kedalaman sekitar 160 kaki, hampir 50 meter. Dari enam yang berangkat, satu pulang hidup: seorang mahasiswi dari University of Genoa yang pada menit-menit terakhir memutuskan tidak jadi turun. Ia sudah mengenakan perlengkapan selam penuh ketika rombongannya mulai masuk ke dalam air. Kenapa ia berbalik? Belum ada yang tahu. Tapi keputusan itu menyelamatkan nyawanya.
Kini ia menjadi saksi kunci dalam penyelidikan kepolisian Maladewa.
Kelima korban sudah teridentifikasi. Ada Monica Montefalcone, profesor biologi kelautan, yang kali ini turun bersama putrinya sendiri, Giorgia Sommacal, 20 tahun. Tiga nama lain: Muriel Oddenino, Gianluca Benedetti, dan Federico Gualtieri. Bagi Montefalcone, ekspedisi ini agaknya bukan sekadar liburan biasa, melainkan perjalanan yang disengaja untuk mengeksplorasi ekosistem laut. Ironis, justru di sana ia dan Giorgia kehilangan nyawa.
Penyebab pastinya masih diusut. Cuaca buruk sempat menghambat pencarian lanjutan pada Jumat, mempersulit tim penyelamat menelusuri kondisi di dalam gua. Sejumlah pakar menduga dua skenario: kepanikan di dalam gua, atau keracunan oksigen.
"Kemungkinan ada sesuatu yang bermasalah dengan tabung oksigen," kata Claudio Micheletto, ahli paru-paru dari University Hospital of Verona, kepada media Italia Adnkronos. Ia menjelaskan bahwa hyperoxia, kondisi ketika kadar oksigen dalam darah melonjak melampaui batas aman, termasuk risiko paling mematikan dalam penyelaman gua dan bisa menghantam sangat cepat, tanpa tanda-tanda yang mudah dikenali.
Penyelaman gua memang beda kelas dibanding selam biasa di perairan terbuka. Minim cahaya, ruang sempit, dan tidak ada jalan keluar langsung ke permukaan kalau ada masalah. Penyelam bergantung penuh pada peralatan dan kepala yang tetap dingin. Satu momen panik, tamatlah riwayat. Bukan lebay, itu memang risikonya.
Maladewa selama ini menjadi kiblat penyelaman dunia, dengan visibilitas air yang jernih dan keanekaragaman hayati laut yang sulit ditandingi di tempat lain. Tapi kawasan Vaavu Atoll, kalau data ini bisa dipercaya, menawarkan penyelaman gua yang tidak ramah bagi mereka tanpa sertifikasi khusus dan jam terbang yang cukup. Pertanyaan soal protokol keselamatan selama ekspedisi ini pasti akan jadi bagian dari penyelidikan yang masih berjalan.