KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Lima Tahun, Tiga Level, dan Satu Franchise yang Ta...

Tekno

Lima Tahun, Tiga Level, dan Satu Franchise yang Takut Maju

Remake Halo: Combat Evolved yang dibangun di atas Unreal Engine 5 ini secara visual memukau, tapi banyak yang merasa Halo Studios hanya mengecat ulang rumah tua tanpa berani merombak fondasinya.

Halo: Campaign Evolved menunjukkan Halo masih takut untuk bergerak maju (Unto Dawn)

Lima tahun pengerjaan, satu franchise ikonik, dan hasil akhirnya adalah cat baru dengan tiga level tambahan yang mudah dilupakan.

Halo: Campaign Evolved akhirnya mendarat, dan respons yang muncul jauh dari kata seragam. Dibangun ulang di atas Unreal Engine 5, secara teknis game ini tidak main-main. Digital Foundry sudah mengonfirmasi performa solid di PlayStation maupun Xbox, dan memang, secara visual ada momen-momen yang benar-benar spektakuler. Tapi stuttering yang cukup sering muncul mengganggu pengalaman itu lebih dari yang seharusnya.

Masalah terbesarnya bukan soal framerate.

Halo Studios mengambil kampanye legendaris tahun 2001, memoles sejumlah level yang memang bermasalah, seperti The Library yang horor sekaligus melelahkan, memperbaiki geografis di Warthog Run, lalu menambahkan mini-kampanye tiga misi sebagai konten baru. Agaknya ini yang mereka andalkan sebagai nilai jual. Tiga misi prekuel itu justru menjadi bagian paling mengecewakan: desain level repetitif, tulisan yang terasa seperti produk era pasca-Marvel lengkap dengan canda yang dipaksakan, dan puncaknya adalah pertempuran luar angkasa yang, jujur saja, membosankan untuk standar game modern mana pun.

Karakter Master Chief pun ditulis ulang dengan cara yang membuat banyak penggemar lama mengernyit. Chief yang dikenal dengan penyampaian datar dan ketegasan tanpa basa-basi kini tampil lebih "ceria", sementara Sersan Johnson hampir tidak berhenti berbicara. Halo memang punya humor, tapi dunianya selalu terasa serius di bawah permukaan. Nuansa itu, di Campaign Evolved, hilang begitu saja.

Lalu ada soal skin di game first-person shooter single-player. Monetisasi kosmetik diprioritaskan di remake kampanye tanpa multiplayer, sementara tim pengembang justru memberhentikan sejumlah staf setelah perilisan, termasuk mereka yang sudah berkarya di studio bertahun-tahun. Prioritas yang, katakanlah, menarik untuk dicermati.

Kritik tidak hanya datang dari komunitas penggemar biasa. Salah satu yang paling keras suaranya: Marcus Lehto, mantan direktur seni Bungie yang merancang Master Chief dan ringworld ikonik itu. Ia secara terbuka menyebut tampilan Ring World di game ini "sangat jelek." Lehto berargumen bahwa Halo asli dimaksudkan terasa besar, gelap, misterius, sekaligus penuh keajaiban, dengan latar Bima Sakti yang terlihat di kejauhan untuk memperkuat rasa terpencil dan ancaman. "Cincin menu utama adalah hal paling menyinggung yang kami lihat setiap kali kami menyalakan permainan. Seharusnya terasa besar, gelap, misterius, menyeramkan, tapi juga penuh keajaiban. Cincin baru ini terlihat seperti mainan baru yang mengkilap, tidak seimbang, tidak ada misteri, sangat jelek," tulisnya. Ia bahkan membagikan perbandingan visual keduanya. Bak gayung bersambut, argumentasinya sulit dibantah.

Sekelompok penggemar lain memilih menatap ke belakang. Halo Archive, platform buatan komunitas, kini memungkinkan pemain menggali kembali sejarah multiplayer mereka dari era Halo 2 dan 3, lengkap dengan statistik lama, rekaman pertandingan, hingga siapa lawan terbesar mereka dulu. Sistem API-kredit dengan kuota awal 200 kredit cukup untuk sesi nostalgia singkat. Bukan platform yang akan dikunjungi setiap hari, tapi momen pertama kali masuk, kata orang yang sudah mencobanya, rasanya seperti tiba-tiba kembali ke 2007.

Itu sendiri bicara banyak tentang kondisi Halo hari ini. Kalau komunitas lebih bersemangat menggali kenangan lama ketimbang merayakan rilisan baru, ada yang serius perlu dibenahi Halo Studios. Sejak Bungie keluar, arah kreatif franchise ini tidak pernah benar-benar koheren: Halo 4 mencoba sesuatu, ditinggalkan di Halo 5; Halo 5 membangun premis menarik yang lalu diselesaikan di luar layar sebelum Infinite; dan kini Campaign Evolved muncul sebagai pengulangan yang dipoles. Pola klasik studio yang terlalu sibuk mengelola warisan ketimbang membangunnya.

Tanda-tanda mengarah ke Halo 2 remake sebagai proyek berikutnya. Kalau benar, waralaba yang dulu mendefinisikan FPS modern tampaknya akan terus melakukan perjalanan ke masa lalu. Entah kebetulan atau tidak, itulah satu-satunya arah yang terasa aman buat mereka sekarang.