SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Lima MoU Rp7 Triliun dan Roadmap 2026-2030: Indone...

Ekonomi

Lima MoU Rp7 Triliun dan Roadmap 2026-2030: Indonesia-Belarus Serius Naikkan Level

Di sela Sidang Komisi Bersama Ke-8 di Minsk, Indonesia dan Belarus menyepakati lima MoU senilai Rp7 triliun sekaligus merampungkan peta jalan kerja sama ekonomi lima tahun ke depan.

Nilai perdagangan Indonesia-Belarus melonjak 72,6 persen secara tahunan menjadi sekitar 221 juta dolar AS, atau sekitar Rp3,6 triliun. Angka yang tidak kecil, agaknya masih jauh dari potensi sesungguhnya.

Dari Minsk, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membawa pulang lebih dari sekadar angka. Dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-8 Indonesia-Belarus, lima Nota Kesepahaman senilai total Rp7 triliun berhasil diteken, melibatkan sejumlah entitas dari kedua sisi: PT Pupuk Indonesia dengan Nedra Nezhin, PT Indonesia Belarus Jaya dengan OJSC Minsk Dairy Plant No. 1, lalu masing-masing dengan Energi Complekt, OJSC Dolomite, dan Belindo Trade.

Tapi ada dokumen lain yang ditandatangani bersamaan, dan ini boleh jadi lebih berat bobotnya dalam jangka panjang. Roadmap of Developing Key Areas of Cooperation between Belarus and Indonesia for 2026-2030 resmi diteken Airlangga bersama Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich. Peta jalan itu dirancang sebagai kerangka sistematis dan terukur untuk kerja sama bilateral lima tahun ke depan, sekaligus disebut akan menjadi salah satu deliverables utama saat Presiden Belarus berkunjung ke Jakarta. Kunjungan itu pun dijadwalkan barengan dengan Forum Bisnis Indonesia-Belarus.

Sepanjang pertemuan SKB, pembahasan membentang luas: perdagangan, investasi, industri, pertanian, ketahanan pangan, kehutanan, perbankan, kesehatan, pendidikan, hingga pariwisata. Ada beberapa sektor yang tampak menjadi titik berat. Indonesia mendorong skema joint venture, local assembly, dan transfer teknologi, khususnya pada alat berat, kendaraan komersial, pupuk, dan mesin pertanian. Bukan kebetulan Belarus punya basis manufaktur yang solid persis di segmen-segmen itu.

"Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi," kata Airlangga. Karankevich, dari pihak Belarus, menyebut pihaknya membuka lebih banyak ruang kolaborasi bagi dunia usaha di kedua negara. Ia juga mengungkap rencana pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus, yang diharapkan memperkuat hubungan antarpengusaha secara struktural.

Satu lapis lagi yang menopang optimisme jangka menengah adalah Indonesia-EAEU FTA, perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia, yang telah ditandatangani dan kini tengah melewati proses ratifikasi. Kalau tuntas, ini bukan sekadar akses ke Belarus. Rusia, Kazakhstan, Armenia, Kirgizstan ikut terbuka. Klaim yang masih perlu dibuktikan implementasinya, tapi potensinya sulit diabaikan.

Di sisi ekspor, Indonesia mendorong peningkatan pengiriman karet, kakao, kopi, produk perikanan, dan sejumlah produk manufaktur ke Belarus serta kawasan EAEU yang lebih luas. Belarus sendiri mengundang pengusaha Indonesia untuk melihat langsung kapabilitas industri pertanian dan manufaktur mereka. Sinyal bahwa mereka mencari mitra produksi, bukan sekadar pasar.

Pertemuan ini dihadiri Duta Besar RI untuk Moskow Jose Antonio Morato Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan APINDO dan KADIN Indonesia. Lima MoU senilai Rp7 triliun itu bisa terasa besar, bisa juga terasa kecil. Bergantung seberapa serius kedua pihak mengeksekusi apa yang sudah ditandatangani.