Rute pelayaran yang sempat mati suri itu kini berdetak lagi. Pengiriman barang antara Pelabuhan Dayyer di pesisir Iran dan Pelabuhan Al Ruwais di Qatar resmi dilanjutkan, mengakhiri jeda sekitar lima bulan yang dimulai ketika kawasan Teluk terseret ke dalam salah satu krisis keamanan paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Atase Perdagangan Iran di Doha, Abbas Abdolkhani, mengonfirmasi beroperasinya kembali jalur itu setelah koordinasi intensif antara Kedutaan Besar Iran di Doha dan otoritas pelabuhan Qatar. Bukan perkembangan kecil. Kedua pelabuhan ini selama ini menjadi urat nadi perdagangan regional di Teluk, tapi tunggu, em dash dibuang: kedua pelabuhan ini selama ini menjadi urat nadi perdagangan regional di Teluk, dan matinya rute ini selama lima bulan berdampak nyata pada arus logistik kawasan.
Latar belakangnya perlu diingat. Serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, beserta sejumlah anggota keluarganya. Tehran membalas: serangan udara ke Israel dan ke titik-titik di kawasan yang menjadi basis aset militer AS, termasuk Qatar. Pelabuhan Dayyer sendiri beberapa kali dilaporkan kena tembak selama konflik berlangsung. Perdagangan berhenti. Logistik kawasan amblas.
Konflik mereda setelah Pakistan memediasi gencatan senjata yang berlaku mulai 8 April 2026. Pertengahan Juni, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken memorandum perjanjian damai sementara, membuka ruang bagi normalisasi bertahap. Agaknya momentum itulah yang mendorong kedua negara duduk bersama mengatur ulang jalur perkapalan, tapi lebih tepatnya: agaknya momentum itulah yang akhirnya membuat kedua pihak mau duduk bersama mengatur ulang rute pelayaran.
Pemulihan ini tidak datang sendirian. Akhir Juni 2026, barang-barang Iran mulai diproses kembali di Pelabuhan Jebel Ali, UEA, salah satu hub logistik terbesar di kawasan. Dua sinyal dalam rentang dua pekan. Bukan kebetulan, kalau data ini bisa dipercaya.
Situasi belum sepenuhnya pulih. Pengaturan lalu lintas kapal masuk dan keluar Teluk masih dalam pembahasan antara pihak-pihak terkait, artinya pemulihan berlangsung bertahap dan variabel keamanan terus dipantau para operator pelayaran. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa dijaga?
Bagi investor yang mengikuti dinamika kawasan, jalur Dayyer-Al Ruwais yang kembali aktif ini lebih dari sekadar berita pelabuhan. Barometer seberapa jauh kepercayaan aktor ekonomi di Teluk sudah pulih, dan seberapa cepat rantai pasok regional bisa kembali ke ritme sebelum perang. Negosiasi damai AS-Iran berikutnya dijadwalkan di Pakistan pada 11 Juli. Hasilnya yang akan menentukan.