SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ledakan Sasar Markas Komando Israel di Lebanon Sel...

Internasional

Ledakan Sasar Markas Komando Israel di Lebanon Selatan, Dua Tentara Jadi Korban

Ledakan alat peledak menghantam markas komando lapangan Israel di Lebanon selatan, melukai dua tentara dari pasukan cadangan. Serangan diduga operasi Hizbullah.

Israel says 'limited' ground operations have begun in Lebanon

Dua tentara Israel terluka setelah ledakan alat peledak menghantam markas komando lapangan wakil komandan brigade komando di wilayah pendudukan Lebanon selatan, Senin (29/6). Satu korban mengalami luka serius, satu lagi luka sedang. Keduanya dievakuasi dengan helikopter untuk perawatan intensif.

Yang membuat insiden ini lebih dari sekadar serangan acak: markas tersebut sedang menjadi lokasi pertemuan sejumlah perwira senior Israel tepat saat ledakan terjadi. Bukan kebetulan yang mudah diabaikan.

Para pejabat Israel menduga kuat ini operasi Hizbullah. Targetnya bukan pos sembarangan, melainkan fasilitas yang menampung komandan lapangan Israel di selatan Lebanon. Media Ibrani yang pertama mengonfirmasi insiden ini, dengan laporan bahwa korban berasal dari pasukan cadangan yang tengah bertugas di lokasi tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, terpisah, menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur Hizbullah selama ini dilakukan sepengetahuan dan koordinasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu memberi konteks lebih luas soal eskalasi yang terus berlangsung di Lebanon selatan, sekaligus mengisyaratkan bahwa operasi militer Israel di wilayah itu bukan manuver unilateral semata.

Tegangan di sepanjang perbatasan Lebanon selatan belum juga benar-benar surut meski gencatan senjata sempat digaungkan. Serangan terhadap markas komando semacam ini menunjukkan Hizbullah, kalau dugaan Israel terbukti benar, masih punya kapasitas intelijen dan operasional yang cukup untuk menarget titik-titik sensitif di dalam zona pendudukan. Bukan operasi kecil-kecilan.

Sejauh ini belum ada klaim resmi dari Hizbullah. Tapi pola serangan yang sudah berulang di kawasan itu, entah kebetulan atau tidak, membuat konfirmasi formal terasa seperti formalitas yang bisa datang belakangan, atau tidak datang sama sekali.