Ledakan terdengar lagi di selatan Iran, Rabu (8/7/2026) malam. Dan kali ini bukan AS yang jadi tersangka.
Militer AS secara eksplisit membantah keterlibatan mereka. Mantan perwira Korps Marinir Dan Grazier bilang kepada Al Jazirah, "Sangat mungkin Israel berada di balik tindakan militer apa pun yang sedang berlangsung saat ini."
Kantor berita Mehr News melaporkan tiga ledakan di Konarak, kota pelabuhan di provinsi Sistan-Baluchistan yang menghadap Teluk Oman. Gubernur setempat Mohammad Younes Haqqani mengonfirmasi kepada IRNA bahwa jet tempur musuh menyasar zona militer angkatan laut dalam dua gelombang. Tim penyelamat dan aparat keamanan langsung dikerahkan ke lokasi, penyelidikan masih berjalan. Bukan serangan pertama. Sebelumnya, sasaran mencakup bandara, jaringan logistik, reaktor nuklir Bushehr, hingga jalur kereta api di Iran utara. Ahvaz di Khuzestan sudah lebih dulu kena.
Satu detail yang sulit diabaikan: semua ini terjadi bersamaan dengan prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat operasi AS dan Israel pada Februari lalu. Entah kebetulan atau tidak, timingnya terasa disengaja.
Di Tel Aviv, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz memilih absen dari upacara kelulusan National Security College. Rapat keamanan darurat digelar. Agenda yang semula membahas nota kesepahaman Israel-AS melebar, mencakup perkembangan konflik Iran yang berubah cepat. Presiden Isaac Herzog dan Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir tetap hadir di upacara kelulusan itu. Tapi sinyal dari absennya Netanyahu cukup jelas: ini serius.
IDF sudah meningkatkan kesiagaan di seluruh lini. Pesawat tempur dalam kondisi siap diterbangkan, daftar target diperbarui berdasarkan intelijen terbaru, koordinasi dengan Komando Pusat AS berjalan intensif. Penilaian sementara pemerintah Israel: konflik ini agaknya belum akan meletus jadi perang besar sebelum pemilu sela AS. Tapi skenario terburuk tetap disiapkan.
Seorang pejabat senior Israel menegaskan, tekanan ekonomi tetap jadi senjata utama Jerusalem. Riyal Iran terus amblas, kondisi fiskal Teheran makin sesak. Israel menilai justru itulah yang perlu dijaga. Serangan militer, kata pejabat itu, hanya salah satu opsi, bukan tujuan akhir.
Bagaimana konflik ini bisa sampai di titik ini? Eskalasi bermula ketika Iran menyerang tiga kapal yang melintasi Selat Hormuz lewat jalur yang tidak diakui Teheran. AS membalas dengan serangan ke lebih dari 80 target di Iran. Teheran lalu mengklaim menyerang lebih dari 85 target di Bahrain dan Kuwait, meski Kuwait menyebut militernya berhasil mencegat dua rudal balistik dan 13 drone tanpa kerusakan berarti. Iran mengakui tiga korban jiwa, satu di antaranya anggota IRGC.
Di sela KTT NATO di Ankara, Trump membuang segala ambiguitas. Gencatan senjata dengan Iran sudah tidak berlaku. "Negosiasi dengan Iran itu buang-buang waktu," tegasnya, sambil memperingatkan serangan baru bisa datang kapan saja malam itu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang semestinya mengunjungi Israel, ikut membatalkan perjalanannya.
Para pejabat Iran bergeming. Mereka menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan paksaan, dan menegaskan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz baru berhenti jika kewenangan Teheran atas pengelolaan selat itu diakui secara resmi. Klaim yang, kalau boleh jujur, sulit dibayangkan ditelan komunitas internasional begitu saja.
Grazier membaca pola ini lebih dalam. Serangan-serangan terakhir tampaknya menyasar aset pertahanan udara Iran, kapal-kapal cepat berukuran kecil, dan lokasi peluncuran rudal yang selama ini dipakai mengganggu pelayaran. Tujuannya: membatasi kemampuan Iran di Hormuz. Selat itu bukan sekadar rute tanker. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia lewat sana setiap harinya. Angka yang tidak main-main.