Penandatanganan itu berlangsung di Washington, Jumat, di hadapan sorot kamera dan siaran langsung, tapi tunggu dulu. Rincian lengkap isinya belum diumumkan kepada publik. Lebanon dan Israel resmi meneken kesepakatan kerangka kerja yang disponsori Amerika Serikat, mengakhiri putaran kelima perundingan antara dua negara yang selama puluhan tahun berdiri di sisi berlawanan dari garis api.
Seorang pejabat senior Lebanon yang berbicara secara anonim menyebut kesepakatan ini mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan secara bertahap, tanpa menyebut jangka waktu maupun area spesifik yang masuk dalam skema itu. Angka-angka di lapangan bicara sendiri: sejak 2 Maret 2026, ofensif Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, melukai lebih dari 12.000 lainnya, dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi. Pasukan Israel kini dilaporkan telah maju lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hadir langsung dalam upacara dan menyebut ini sebagai "awal dari sebuah permulaan." Ia tidak menyembunyikan bahwa jalan masih panjang dan berliku. Kesepakatan ini, tegasnya, menetapkan proses yang jelas dan terstruktur untuk memulihkan kedaulatan Lebanon, melucuti senjata Hezbollah, membongkar infrastrukturnya, sekaligus membuka ruang bagi Israel untuk kembali ke perbatasannya begitu ancaman terhadap warganya dianggap sudah berhasil dihilangkan.
Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyambut dengan nada lebih triumfal. "Dalam kesepakatan kerangka trilateral berbasis kinerja ini, Iran keluar, Hizbullah keluar, dan jalan menuju perdamaian antara Israel dan Lebanon terbuka," katanya. Kemenangan doktrin perdamaian melalui kekuatan, klaimnya. Klaim yang, kalau data di lapangan bisa dipercaya, masih perlu dibuktikan jauh melampaui podium Washington.
Sebab di hari yang sama, dari arah lain datang sinyal yang sama sekali berbeda. Brigadir Jenderal Esmail Qaani, Komandan Pasukan Quds IRGC, memantik reaksi lewat akun media sosialnya. Ia mengingatkan Israel soal peristiwa tahun 2000, merujuk pada wasiat mendiang Hasan Nasrallah di Bint Jbeil, dan memperingatkan: mereka yang tidak mundur atas kehendak sendiri hari ini akan dipaksa melarikan diri dalam keadaan hina esok hari. Keras. Sarat simbolisme perlawanan Syiah.
Menteri Perang Israel Yisrael Katz tidak bisa diam. Ia merespons lewat unggahan berbahasa Persia di platform X, sebuah pilihan bahasa yang sendiri sudah bicara banyak soal kepada siapa pesan itu ditujukan. Serangan Iran terhadap Israel, tulisnya, akan menjadi "kesalahan terbesar" yang pernah dibuat Teheran. Selat Hormuz tidak akan jadi kartu truf, tambahnya, dan pasukannya siap menuntaskan operasi yang sedang berjalan. Retorika agresif yang membungkus diri dengan nada defensif, atau sebaliknya, agaknya sulit dibedakan.
Ini bukan dua berita yang kebetulan terjadi di hari yang sama. Kesepakatan Washington dan perang kata-kata antara Qaani dan Katz adalah dua sisi dari satu koin: pertaruhan besar di Levant yang hasilnya belum ada yang bisa pastikan. Satu pihak menandatangani kerangka perdamaian. Pihak lain mengingatkan bahwa perang belum selesai. Pelaku pasar yang punya eksposur ke aset Timur Tengah atau bergantung pada jalur energi kawasan sebaiknya tidak buru-buru menafsirkan upacara di Washington sebagai tanda bahwa situasi sudah aman.