MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Lebanon-Israel: Kesepakatan Kerangka Kerja Bukan R...

Internasional

Lebanon-Israel: Kesepakatan Kerangka Kerja Bukan Restu atas Pendudukan

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan kesepakatan terbaru dengan Israel tidak melegitimasi pendudukan, sementara korban tewas akibat agresi Israel sudah menembus 4.301 jiwa.

Presiden Lebanon tegaskan kesepakatan dengan Israel tak legalkan pendudukan

Presiden Lebanon Joseph Aoun bergerak cepat meluruskan persepsi yang beredar. Kesepakatan kerangka kerja yang baru ditandatangani bersama Israel, dengan mediasi Amerika Serikat, bukan berarti Lebanon memberikan restu atas pendudukan yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu.

Penegasan itu disampaikan Aoun saat menerima delegasi dari Asosiasi Universitas Lebanon, Ikatan Dokter Lebanon, dan Ordo Maronit Lebanon. Pesannya lugas: "Rumusan kerangka kerja tersebut tidak melegitimasi berlanjutnya pendudukan Israel atas Lebanon, melainkan bertujuan memberdayakan tentara Lebanon agar dapat memperluas kendalinya ke seluruh wilayah negara," ujarnya, sebagaimana dikutip kantor kepresidenan.

Kesepakatan itu sendiri mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon, dimulai dari dua kawasan percontohan. Belum ada jadwal pasti untuk penarikan penuh. Tahapan berikutnya tergantung pada kesiapan militer Lebanon mengambil alih tanggung jawab keamanan, sekaligus proses pelucutan senjata kelompok non-negara, termasuk Hizbullah.

Aoun juga menegaskan bahwa keputusan Beirut bersifat berdaulat, terpisah dari dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat yang sedang memanas. Framing ini agaknya penting bagi pemerintah Lebanon untuk menghindari kesan bahwa mereka sekadar pion dalam permainan geopolitik yang lebih besar.

Hizbullah, tidak mengejutkan, menolak mentah-mentah perjanjian itu. Tidak sah, kata mereka. Upaya mengaitkan penarikan pasukan Israel dengan pelucutan senjata Hizbullah dinilai telah melampaui, dalam kata-kata kelompok itu sendiri, "semua garis merah". Penolakan ini memperumit implementasi kesepakatan secara serius, mengingat Hizbullah masih menjadi faksi bersenjata paling diperhitungkan di Lebanon selatan.

Di lapangan, situasinya jauh lebih suram dari meja perundingan mana pun. Korban tewas akibat agresi Israel di Lebanon sejak 2 Maret 2026 kini tercatat 4.301 jiwa, dengan 12.199 orang lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon. Sebuah drone Israel bahkan sempat menjatuhkan granat kejut di Kota Nabatieh al-Fawqa. Sinyal bahwa tensi di lapangan belum benar-benar mereda, meski negosiasi terus berjalan.

Invasnya bukan kemarin sore. Israel telah menguasai sebagian wilayah Lebanon selatan selama beberapa dekade, dan dalam konflik 2023-2024 memperluas cengkeraman hingga lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Beirut menyebut kesepakatan ini sebagai langkah awal memulihkan kedaulatan penuh, sekaligus membuka jalan bagi ratusan ribu warga pengungsi untuk pulang ke kampung halaman.

Kuncinya tetap satu: seberapa cepat militer Lebanon siap mengisi kekosongan yang ditinggalkan Israel. Kalau tentara Lebanon tidak mampu hadir secara nyata di selatan, seluruh arsitektur kesepakatan ini bisa runtuh sebelum selesai dibangun.