KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Perbankan  ›  LDR 84,65%, Bank-Bank Besar Bergerak Lebih Awal Se...

Perbankan

LDR 84,65%, Bank-Bank Besar Bergerak Lebih Awal Sebelum H2 2026 Tiba

Di tengah rasio LDR yang masih longgar, bank-bank besar justru memperkuat benteng likuiditas mereka jauh-jauh hari. Ada alasan mengapa mereka tidak mau terlena.

Top Indonesia Banks' Loan to Deposit Ratio (LDR) - Voronoi

Rasio kredit terhadap pendanaan perbankan nasional tercatat 84,65% per Maret 2026, turun dari 87,77% di periode yang sama tahun lalu. Longgar? Iya. Tapi pelaku industri agaknya tidak mau terlena dengan angka itu.

Sejumlah bank besar sudah bergerak lebih awal, menata ulang strategi pendanaan sebelum semester kedua 2026 benar-benar tiba. Ini bukan kepanikan. Ini antisipasi.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memilih menjaga LDR di bawah 90%, target yang terdengar konservatif tapi masuk akal mengingat tekanan yang diperkirakan datang dari dua arah sekaligus. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) fokus memompa Current Account Saving Account lewat kanal digital, sementara PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) bermain di kisaran LDR 85-90% dengan prioritas pada penghimpunan giro.

Lalu tekanan apa yang mereka antisipasi?

Dua: fiskal dan valas. Pemotongan anggaran pemerintah untuk mengompensasi tambahan subsidi berpotensi menyedot likuiditas dari pasar, mengingat belanja negara selama ini menjadi salah satu kontributor utama uang beredar. Dari sudut valas, defisit transaksi berjalan yang melebar bisa membatasi suplai dolar, memaksa bank lebih cermat mengelola cadangan mereka.

Belum lagi soal kebijakan Devisa Hasil Ekspor. Aturan DHE Sumber Daya Alam yang mewajibkan penempatan dana di bank pelat merah jelas mempersulit bank swasta. Mereka harus lebih kreatif mencari sumber pendanaan valas alternatif, dan itu tidak murah.

Strategi yang dipilih mayoritas bank sebetulnya sederhana: perkuat dana murah, tekan cost of fund, jaga Net Interest Margin. Digitalisasi kanal transaksi kini menjadi ujung tombaknya. Tidak lagi bergantung pada jaringan cabang fisik yang mahal, bank menghimpun giro dan tabungan ritel maupun korporasi lewat platform digital yang jangkauannya lebih luas dengan biaya jauh lebih efisien.

Ada trade-off yang tidak bisa diabaikan. Likuiditas terlalu longgar justru bisa menggerus NIM karena ada dana menganggur yang tidak tersalurkan. Bank sadar betul soal ini. Tapi mereka tampaknya memilih buffer yang kuat ketimbang margin yang sedikit lebih tebal di jangka pendek, terutama karena permintaan kredit saat ini memang masih lesu. Kalau data OJK ini bisa dipercaya, ruang ekspansi kredit belum benar-benar terbuka.

Logikanya: bangun benteng dulu, ekspansi belakangan. Ketika demand kredit akhirnya rebound, bank yang sudah punya struktur pendanaan efisien dan likuiditas memadai bisa bergerak cepat tanpa harus mengorbankan profitabilitas. Yang tidak siap? Bisa tertinggal. Atau, lebih buruk, terpaksa menaikkan bunga dana di momen paling tidak menguntungkan.

Semester kedua 2026 belum tentu seburuk yang dikuatirkan. Tapi entah kebetulan atau tidak, bank-bank yang paling rajin memupuk likuiditas hari ini biasanya yang paling percaya diri saat badai datang.