Setahun lalu NIM perbankan nasional masih di 4,58%. Kini angkanya sudah turun ke 4,31%, dan hampir pasti belum berhenti di sini.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat net interest margin industri perbankan per Agustus 2026 berada di level 4,31%, menipis dari 4,32% pada Juli, melanjutkan tren koreksi yang sudah berjalan sepanjang tahun ini. Secara bulanan selisihnya memang kecil. Tapi dalam setahun, margin sudah terkikis 27 basis poin. Bukan angka yang bisa dianggap angin lalu.
"Tingkat profitabilitas perbankan masih tergolong terjaga meskipun NIM dalam tren menurun," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers RDKB September 2026 yang digelar virtual, Senin (5/10/2026). Ia menjelaskan bahwa pergerakan NIM sangat dipengaruhi kombinasi suku bunga acuan, efisiensi biaya dana, struktur permintaan kredit, hingga profil risiko tiap bank dan nasabah.
Ada sisi lain dari tekanan ini yang agaknya memang disengaja. Bank-bank nasional, kata Dian, secara aktif menahan laju kenaikan suku bunga kredit agar tidak mencekik debitur. "Dijaga tidak terlalu tinggi agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," ungkapnya. Artinya, sebagian beban transmisi suku bunga BI yang kini di level 5,75% itu ditanggung sendiri oleh margin perbankan, tidak dilempar ke nasabah.
Data Agustus memperlihatkan mekanisme ini lebih telanjang: suku bunga tertimbang DPK rupiah naik 7 bps secara bulanan, sementara suku bunga tertimbang kredit rupiah hanya merambat 3 bps. Selisih itulah yang menjepit NIM. Bank membayar dana lebih mahal di sisi liabilitas, tapi enggan menaikkan bunga kredit secepat itu. Pertanyaannya, berapa lama kesabaran ini bisa bertahan?
OJK memproyeksikan NIM akan bergerak di kisaran stabil dan terukur, seiring transmisi kebijakan moneter BI yang dinilai masih berjalan. Untuk menjaga ketahanan sektor keuangan, OJK memperkuat sinergi lintas lembaga bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan LPS.
Bagi investor saham perbankan, angka 4,31% ini sinyal awal. Cermat memilah emiten mana yang struktur pendanaannya cukup efisien untuk bertahan, dan mana yang NIM-nya masih akan tergerus lebih dalam di kuartal berikutnya.