KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Perbankan  ›  34 Juta Rekening Paylater Bank: Porsi Mini, Laju K...

Perbankan

34 Juta Rekening Paylater Bank: Porsi Mini, Laju Kencang

OJK mencatat baki debet kredit BNPL perbankan tembus Rp31,41 triliun per Agustus 2026, tumbuh 29,10 persen secara tahunan, meski porsinya baru 0,34 persen dari total kredit nasional.

Angka 34 juta rekening itu bukan sesuatu yang bisa dilewati begitu saja, meski OJK sendiri mengakui porsinya masih seupil di dalam ekosistem kredit perbankan nasional.

Per Agustus 2026, baki debet kredit buy now pay later (BNPL) yang disalurkan perbankan tercatat Rp31,41 triliun, tumbuh 29,10 persen secara tahunan. Rekening aktif produk paylater bank umum kini menyentuh 34 juta, naik dari 33,50 juta bulan sebelumnya. Kenaikan bulanannya tipis, tapi dalam setahun penuh, angka itu sudah cukup mencolok.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae tidak menampik fakta ini. "Per Agustus 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK adalah sebesar Rp31,41 triliun atau sebesar 0,34 persen dibandingkan total kredit perbankan. Namun, tumbuh tinggi sebesar 29,10 persen yoy, dengan jumlah rekening mencapai 34 juta," kata Dian dalam konferensi pers Hasil RDKB OJK, Senin (5/10/2026).

0,34 persen. Kecil, tapi trennya melejit.

Bank-bank umum agaknya tidak mau ketinggalan momentum. Ekspansi paylater makin agresif, dan langkah itu bukan tanpa kalkulasi: pasar ritel digital Indonesia tumbuh masif, masyarakat kian terbiasa bertransaksi tanpa kartu fisik. Paylater bank masuk mengisi celah itu, bersaing sekaligus berdampingan dengan layanan fintech yang lebih dulu menggarap segmen ini.

Namun satu data dari laporan OJK bulan ini layak dicermati lebih seksama. Kredit konsumsi perbankan Agustus hanya tumbuh 5,07 persen secara tahunan, lebih rendah dari 5,38 persen yang dibukukan Juli. Bukan koreksi dramatis, tapi cukup untuk memunculkan tanda tanya soal daya beli rumah tangga.

Pertanyaannya: apakah laju paylater yang 29 persen itu akan tetap solid kalau kredit konsumsi agregat justru mengerem? Dua angka yang bergerak ke arah berlawanan ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal awal, patut jadi bahan pertimbangan sebelum menyimpulkan bahwa segmen ritel perbankan sedang dalam kondisi prima.