Tiga dekade setelah Perang Dingin berakhir, militer Barat terbiasa bertarung dengan satu keistimewaan yang hampir tidak pernah dipertanyakan: langit selalu milik mereka. Irak, Libya, Afghanistan, semua konflik itu... tunggu, bukan begitu. Irak, Libya, Afghanistan. Semuanya dimenangkan dari udara sebelum pasukan darat bahkan sempat berkeringat. Ukraina menghancurkan asumsi itu.
Wakil Marsekal Udara Inggris Ian "Cab" Townsend, Asisten Kepala Staf RAF, menyampaikan peringatan keras di hadapan forum Royal Aeronautical Society: era dominasi udara otomatis sudah berakhir. "Pengendalian udara adalah tugas angkatan udara. Dengan itu, segalanya mungkin dilakukan. Tanpanya, semuanya menjadi berbahaya," tegasnya.
Fakta di lapangan membenarkan kekhawatiran itu. Lebih dari tiga tahun konflik berjalan, baik Rusia maupun Ukraina sama-sama gagal menguasai langit sepenuhnya. Tidak ada pihak yang bisa melancarkan operasi udara bebas hambatan seperti yang lazim terlihat dalam perang-perang Barat sebelumnya. Hasilnya: konflik attrisi yang mematikan, garis depan nyaris stagnan, korban terus berjatuhan di kedua sisi.
Townsend menyebut pergeseran ini bukan sekadar soal teknologi baru, melainkan perubahan fundamental dalam cara perang dilancarkan. "Selama dekade terakhir kita menghadapi little green men di darat, dan sekarang kita semakin menghadapi little grey drones di udara," ungkapnya. Kombinasi drone murah yang bisa diproduksi massal, sistem pertahanan udara berlapis, dan rudal jarak jauh telah menjejali langit dengan ancaman di hampir semua ketinggian. "Lingkungan operasi pertahanan rudal udara modern menjadi semakin kompleks dan ambigu," tambahnya.
Drone, ironisnya, justru jadi senjata yang paling banyak mengubah kalkulasi ini. Murah, sulit dideteksi, bisa diluncurkan dalam jumlah besar. Wahana tanpa awak itu kini mengisi celah yang tidak terjangkau jet tempur mahal mana pun, dan celah itu ternyata lebih lebar dari yang dibayangkan. Sepanjang konflik berlangsung, serangan drone Ukraina jauh menembus wilayah Rusia; satu pun pilot tidak perlu berisiko ditembak jatuh. Pola semacam ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, agaknya akan semakin sering kita saksikan.
Bagi Townsend, ancaman nyata bukan lagi kelompok bersenjata yang difasilitasi negara lemah. Rusia dan China berbeda kelas. Keduanya telah menginvestasikan sumber daya masif dalam sistem anti-akses dan penangkal area yang dirancang spesifik untuk mematikan keunggulan udara NATO, bak perangkap yang sudah lama dipasang, tinggal menunggu mangsa masuk.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Barat masih bisa mendominasi udara. Yang lebih menggigit: seberapa mahal harga yang harus dibayar untuk merebutnya, dan apakah harga itu masih masuk akal secara strategis?