SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Laba BMRI Tembus Rp23,3 Triliun, Kredit Tumbuh 20,...

Finansial

Laba BMRI Tembus Rp23,3 Triliun, Kredit Tumbuh 20,6 Persen hingga Mei 2026

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencetak laba bersih Rp23,3 triliun sepanjang Januari-Mei 2026, tumbuh 18,6 persen secara tahunan, ditopang ekspansi kredit yang melampaui Rp1.580 triliun.

Kredit Bank Mandiri naik 20,6 persen capai Rp1.580 T per Mei 2026

Sepanjang lima bulan pertama 2026, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tidak sekadar tumbuh, tapi tumbuh di hampir semua lini sekaligus. Laba bersih bank only tercatat Rp23,3 triliun per akhir Mei, naik 18,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka yang, jujur saja, cukup solid untuk pasar yang masih dihantui ketidakpastian global.

Portofolio kredit bank only menembus Rp1.580 triliun, tumbuh 20,6 persen year on year. Mayoritas disalurkan ke sektor produktif: proyek hilirisasi industri hingga segmen UMKM yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi daerah. Untuk bank dengan basis aset sebesar BMRI, pertumbuhan segini bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) melar 22,0 persen menjadi Rp1.716 triliun. Yang lebih menarik: pertumbuhan itu tidak datang dari deposito mahal. Ditopang dana murah, dengan giro Rp664 triliun dan tabungan Rp559 triliun. Komposisi CASA yang tebal seperti ini biasanya jadi argumen favorit analis untuk mempertahankan bias positif pada saham bank.

Total aset bank only kini berdiri di Rp2.306 triliun, tumbuh 20,0 persen. Return on equity (ROE) terjaga di kisaran 20 persen. Cukup untuk membuat investor institusional tetap nyaman parkir di sini.

"Kinerja ini merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang," kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini.

Performa digital turut menyumbang. Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri terus mencatat kenaikan pengguna dan volume transaksi. Manajemen menyebut dua platform ini bukan cuma mesin fee income, tapi juga instrumen akuisisi nasabah yang memangkas biaya lebih efisien dibanding jalur konvensional. Novita menambahkan bahwa sinergi ekosistem digital dan jaringan fisik memungkinkan nasabah mengelola keuangan secara menyeluruh dalam satu platform layanan. Klaim yang masih perlu dibuktikan konsistensinya, tentu, tapi track record dua tahun terakhir agaknya mendukung narasi itu.

BMRI juga menegaskan komitmennya sebagai mitra pembiayaan program pemerintah: KUR, KPR subsidi, penguatan koperasi, hingga sektor hilirisasi yang jadi agenda besar. Posisi sebagai bank pelat merah membuat peran ini melekat, sekaligus membuka akses ke pipeline proyek yang tidak mudah dijangkau bank swasta.

ROE 20 persen, kredit melampaui rata-rata industri. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah BMRI tumbuh. Pertanyaannya: seberapa lama momentum ini bisa dijaga ketika siklus suku bunga mulai berbalik arah?