RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kuwait di Garis Tembak: Drone Iran, Listrik Padam,...

Internasional

Kuwait di Garis Tembak: Drone Iran, Listrik Padam, dan Trauma 1990

Kuwait mencegat serangan rudal dan drone Iran yang menghantam infrastruktur listrik dan air, memicu kekhawatiran krisis energi di tengah suhu musim panas yang menyentuh 50 derajat Celsius.

Kuwait Klaim Cegat Serangan Drone dari Iran

Selama berminggu-minggu, warga Kuwait terbangun bukan oleh alarm pagi, melainkan oleh sirene dan suara ledakan di langit malam. Kini ancaman itu berubah bentuk: bukan sekadar bunyi, tapi krisis nyata yang menyentuh keran air dan sakelar listrik jutaan orang.

Staf Umum militer Kuwait mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi serangan rudal dan drone Iran dalam gelombang terbaru yang disebut sebagai "agresi Iran yang berdosa". Tiap ledakan yang terdengar warga, menurut militer Kuwait, adalah intersepsi, bukan hantaman langsung. Tapi klaim itu tidak sepenuhnya menenangkan. Pada Senin (20/7/2026), Kuwait mengeklaim Iran berhasil menyerang sejumlah pembangkit listrik dan air hingga memicu kebakaran.

Tentara Iran sebelumnya mengklaim serangan drone skala besar ke Camp Buehring dan sistem radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem, dua fasilitas yang erat kaitannya dengan kehadiran militer Amerika di kawasan itu. Militer AS mengumumkan dua anggota pasukannya tewas dan satu hilang akibat serangan rudal balistik dan drone Iran, korban jiwa Amerika pertama dari tembakan Iran sejak Maret. CENTCOM menyebut gelombang serangan udara balasan mereka dirancang untuk "melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran di Selat Hormuz" sekaligus menghukum IRGC atas serangan di Yordania.

Iran tidak tinggal diam. Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, pejabat senior IRGC sekaligus penasihat militer Mojtaba Khamenei, melontarkan ancaman operasi serangan berskala penuh jika AS tidak menghentikan serangannya. Ancaman itu, entah kebetulan atau tidak, keluar tepat saat Kuwait mulai menghitung kerusakan infrastrukturnya.

Dampak paling dirasakan warga sipil Kuwait justru bukan dari serpihan drone, melainkan dari jaringan listrik yang mulai kewalahan. Pemerintah menyerukan penghematan energi demi menjaga pasokan tetap stabil. Bukan imbauan yang mudah dipatuhi di negara yang suhu musim panasnya bisa menembus 50 derajat Celsius. Di sana, pendingin ruangan nyaris jadi kebutuhan biologis, bukan kemewahan.

Problemnya lebih kompleks dari sekadar AC mati. Di Kuwait dan sebagian besar negara Teluk, pabrik desalinasi air laut beroperasi dalam sistem terintegrasi dengan pembangkit listrik. Artinya, gangguan pada jaringan energi otomatis mengancam produksi air tawar. "Putuskan pasokan air dengan memutus aliran listrik," tulis David Michel, ahli keamanan air dan pangan, dalam analisisnya. Kalimat itu kini terasa bukan sekadar teori.

Warga merespons dengan cara yang agaknya lahir dari tekanan kolektif. Nasser Al Dhafiri, PNS berusia 40 tahun, berkata jelas: "Semua orang kini merasa bahwa menjaga layanan penting adalah tanggung jawab bersama." Ia juga menyebut betapa besar beban psikologis yang kini menghantam masyarakat biasa. "Apa yang dialami Kuwait saat ini, dalam hal tekanan psikologis dan ketidakpastian, bahkan tidak kami alami selama invasi Irak," ungkapnya. Khaled Al Badri, warga Kuwait berusia lima puluhan, sudah mulai mematikan AC dan lampu sebelum keluar rumah. Kecil, tapi bermakna.

Jaringan listrik Kuwait bukan infrastruktur kemarin sore. Ia sudah bertahan dari invasi Irak 1990, ketika pasukan Saddam yang mundur meninggalkan ratusan sumur minyak membara dan krisis lingkungan yang membekas bertahun-tahun. Kini fondasi tua itu kembali diuji. Juru Bicara Kementerian Kelistrikan Fatima Hayat mengakui kepatuhan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas layanan. "Kepatuhan masyarakat memungkinkan kementerian untuk mengatasi fase yang menantang bagi jaringan listrik," katanya.

Kuwait masuk daftar produsen minyak mentah terbesar OPEC. Tapi kapasitas ekspor minyak tidak serta-merta menyelesaikan krisis listrik domestik, apalagi ketika infrastruktur pembangkitnya yang jadi sasaran. Paradoks lama yang kini terasa menyengat.