Trump mendarat di Beijing Rabu malam, 13 Mei. Pertemuan bilateralnya dengan Xi Jinping dijadwalkan keesokan harinya, berlanjut hingga Jumat. Bagi Gedung Putih, ini bukan sekadar lawatan diplomatik biasa. Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly menyebutnya memiliki "makna simbolis yang luar biasa."
Tapi simbolisme itu perlu diletakkan pada proporsi yang tepat.
Pertemuan ini lahir bukan dari kepercayaan, melainkan dari kalkulasi risiko. Setelah berbulan-bulan hubungan AS-China dihajar tarif saling balas, pembatasan teknologi, dan ketegangan rantai pasok, kedua negara agaknya sama-sama sampai pada satu kesimpulan: biaya konfrontasi sudah terlalu mahal untuk diteruskan.
Skala ekonomi keduanya memberi konteks yang memadai. Berdasarkan proyeksi IMF dalam World Economic Outlook April 2026, PDB AS diperkirakan mencapai US$ 32,38 triliun atau 25,6% output global, sementara China di posisi kedua dengan US$ 20,85 triliun. Laju pertumbuhannya justru terbalik: China memimpin di 4,4%, AS di 2,3%. Di sisi ekspor, China mencatat US$ 359,44 miliar pada April 2026, melampaui ekspor AS yang US$ 320,85 miliar per Maret 2026.
Dua raksasa yang saling bergantung, sekaligus saling curiga.
Pra-negosiasi sudah berjalan sebelum Air Force One mendarat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bersama USTR Jamieson Greer terlibat komunikasi ekonomi intens dengan Wakil PM China He Lifeng. He memimpin delegasi perdagangan Beijing untuk perundingan di Seoul pada 12-13 Mei, tepat sehari sebelum Trump tiba. Pola ini memberi sinyal bahwa inti KTT kemungkinan bersifat transaksional: paket tarif, akses pasar, logam tanah jarang, pembelian komoditas, dan sebagian kerangka aturan teknologi serta AI.
Bukan rekonsiliasi strategis. Lebih mirip negosiasi kontrak antara dua pihak yang tidak terlalu suka satu sama lain.
Defisit perdagangan barang AS terhadap China, yang memuncak di US$ 382,28 miliar pada 2022, tergerus jadi US$ 202,07 miliar di 2025. Kuartal pertama 2026 mencatat US$ 33,49 miliar. Tarif bekerja, tapi kebuntuan strukturalnya tetap ada: China menguasai pasokan logam tanah jarang, AS mengontrol aliran modal dan ekspor teknologi tinggi.
Lalu ada isu yang lebih panas dari sekadar neraca dagang.
Trump disebut akan "memberi tekanan" ke Xi soal Iran, mencakup penjualan minyak Teheran ke Beijing serta pembelian barang sipil-militer yang berpotensi dual-use. Bessent sudah lebih blak-blakan sepekan sebelumnya. "Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka. Jadi mereka mendanai negara sponsor terorisme terbesar," kata Bessent.
China tidak diam. Tepat sebelum KTT, Beijing menjamu Menlu Iran Abbas Araghchi dan menegaskan ingin melihat perang berakhir. Tapi Beijing sekaligus menolak mengakui sanksi "sepihak" AS atas sektor minyak Iran. Araghchi pulang dengan menyebut China sebagai "sahabat" dengan hubungan bilateral yang "makin kuat."
Dukungan ekonomi China atas Rusia juga masuk agenda. Resolusinya? Hampir mustahil tercapai dalam dua hari.
Satu isu paling sensitif justru tak masuk agenda resmi: Taiwan. Kekhawatiran di kalangan sekutu Barat, dan bisa jadi juga di sebagian lingkaran dalam pemerintahan AS sendiri, adalah bahwa Trump mungkin melonggarkan komitmen keamanan atas Taiwan demi mengamankan paket dagang. Pejabat China dikabarkan mengisyaratkan bahwa kompromi atas suplai senjata ke Taiwan bisa dikompensasi dengan kelonggaran akses pasar. Tawaran yang, kalau benar terjadi, akan jadi salah satu keputusan geopolitik paling kontroversial dalam satu dekade terakhir.
Pada 2 Mei lalu, Beijing mengaktifkan instrumen pemblokiran baru yang memberi wewenang sanksi finansial terhadap perusahaan multinasional yang mematuhi sanksi AS. Eksekutif global kini dipaksa memilih blok ekonomi prioritas mereka. Tekanan berjalan dua arah, entah kebetulan atau tidak, tepat menjelang KTT.
Kesepakatan mungkin lahir dari Beijing pekan ini. Kalau pun terwujud, ia lebih mencerminkan kebutuhan kedua belah pihak untuk mengelola ketidakpercayaan agar tidak meledak jadi krisis terbuka. Bukan tanda hubungan yang membaik. Bukan juga sinyal perang dingin yang mereda.
Hanya dua kekuatan besar yang sama-sama terlalu banyak yang bisa hilang jika salah langkah.