Enam bulan sejak peluru pertama diluncurkan pada 28 Februari 2026, konflik Amerika Serikat dengan Iran mulai memperlihatkan wajah aslinya, dan bukan hanya dari sisi Teheran.
Serangan Iran yang menghancurkan pangkalan logistik utama Angkatan Laut AS di Bahrain membuat sekitar 20 kapal dengan hampir 20.000 personel Angkatan Laut dan Marinir terpaksa beroperasi tanpa titik pasokan terdekat. Kebutuhan mingguan armada itu tidak kecil: lebih dari 420.000 porsi makanan dan sekitar delapan juta galon bahan bakar. Angka yang tidak main-main. Kini harus dipenuhi dari jarak ribuan mil.
Kehancuran fasilitas Bahrain memaksa kapal-kapal pendukung menempuh rute sekitar 2.200 mil ke Pulau Diego Garcia. Sebagian bahkan memutar hingga Singapura sebelum kembali bergabung dengan armada. Ancaman yang merembet ke pelabuhan-pelabuhan sekitar Bahrain juga menyebabkan sejumlah fasilitas alternatif dihentikan operasinya. Tekanan logistik itu terus menumpuk, pelan tapi pasti.
Jennifer Kavanagh, Direktur Analisis Militer di Defense Priorities, menilai ini bukan sekadar gangguan operasional. Kepada Sputnik, ia menyebut persoalan yang lebih mendasar: jumlah kapal induk dan kapal perang AS memang terbatas. Washington harus mempertahankan kehadiran angkatan laut secara terus-menerus di Asia Barat, tapi di waktu yang sama, kapal-kapal itu tetap dibutuhkan di Eropa, Asia, dan kawasan lain. Banyak kapal, kata Kavanagh, sedang menjalani perbaikan dan belum bisa dikerahkan. Satu-satunya jalan menambah kekuatan di Asia Barat adalah merampingkan kehadiran di tempat lain. Kalkulasi zero-sum yang tidak ada pemenangnya.
Seberapa lama Washington sanggup menanggung logika semacam ini?
Di ujung lain konflik, Gubernur Teheran Mohammad-Sadeq Motamedian bicara terbuka dalam program televisi akhir Agustus lalu. Ia menggambarkan kondisi Iran bukan dengan retorika kemenangan, melainkan dengan kejujuran yang agaknya jarang meluncur dari pejabat negara yang sedang berperang. "Blokade yang dikenakan pada negara kita di ranah maritim berarti pengelolaan negara berlangsung dalam kondisi yang benar-benar luar biasa dan unik," ujar Motamedian, dikutip dari Anadolu News.
Kondisi "luar biasa" itu punya wujud konkret. Lebih dari 1.200 lokasi infrastruktur listrik di Provinsi Teheran menjadi sasaran serangan. Jaringan air, telekomunikasi, dan gas turut terdampak. Motamedian mengklaim pemulihan berlangsung relatif cepat, setidaknya itu klaim manajemen yang belum bisa diverifikasi secara independen, tapi skala serangannya sendiri sudah cukup bicara: Teheran bukan tanpa luka.
Sanksi ekonomi, bukannya dilonggarkan selama perang, justru diperketat. Blokade angkatan laut AS mengimpit jalur impor. Teheran membalas dengan membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang menanggung sebagian besar perdagangan energi dunia. Dua pihak sama-sama mencekik. Dunia menanggung biayanya.
Pada 18 Juni 2026, keduanya sempat meneken nota kesepahaman yang memuat ketentuan soal blokade dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Jeda napas, bukan titik akhir. Ketegangan kembali meningkat, implementasi kesepakatan berubah jadi bahan perselisihan baru, dan konflik terus bergulir tanpa kejelasan arah.
Yang tersisa kini adalah dua pihak yang sama-sama tergerus tapi belum ada yang mau mengakuinya secara resmi. AS menghadapi batas kemampuan militer yang mulai terasa nyata. Iran mengelola negara dalam kondisi yang pemimpinnya sendiri gambarkan sebagai jauh dari normal. Selat Hormuz tetap menjadi papan catur, dan pelaku pasar energi global memantau setiap langkah dengan cemas, entah kebetulan atau tidak, bak cermin retak dari krisis 2019 yang dulu dianggap tidak akan terulang.