Harga LNG spot Asia sudah melonjak 62 persen sejak perang Iran pecah. Dibanding kenaikan batu bara Newcastle yang "hanya" 13 persen dalam periode yang sama, selisih itu bicara banyak soal ke mana aliran energi Asia sedang bergerak.
Serangan balasan Iran terhadap operasi militer AS-Israel dilaporkan melumpuhkan sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar, pemasok gas alam cair terbesar kedua di dunia. Dampaknya langsung terasa di dua pembeli LNG terbesar Asia. Pasokan listrik berbasis gas di Jepang anjlok 12,9 persen pada April menjadi 16.447 GWh, terendah dalam dua tahun. Korea Selatan lebih parah: listrik berbasis gas turun 6,4 persen ke level terendah enam bulan.
Slot gas yang kosong itu langsung diisi batu bara. Di Jepang, pembangkit batu bara naik 11,1 persen pada April, menggantikan setara empat kargo LNG menurut perhitungan analis senior ICIS Fei Xu. Korea Selatan mencetak kenaikan yang lebih mengejutkan. Listrik berbasis batu bara melonjak 39,7 persen secara tahunan menjadi 10.733 GWh, kenaikan tertajam sejak Agustus 2019. Sepuluh hari pertama Mei memperlihatkan tren yang sama: batu bara naik 18,3 persen di Jepang dan 14,7 persen di Korea Selatan, sementara gas terus merosot.
China bergerak searah, tapi dengan dinamika tersendiri. Produksi listrik termal di sana, yang mayoritas berbasis batu bara, tercatat naik 3,6 persen. Beijing kena tampar dari dua arah sekaligus: kecepatan angin yang rendah memangkas output energi terbarukan, dan sejumlah pembangkit nuklir sedang dalam jadwal perawatan. Pilihan praktisnya cuma satu, hidupkan lebih banyak PLTU. Pemerintah bahkan memerintahkan pembangkit menjaga stok batu bara menjelang puncak konsumsi musim panas.
Produksi batu bara China sendiri sedang tidak mulus. April tercatat 385,63 juta ton, jauh di bawah rekor Maret yang menyentuh 440,62 juta ton. Sepanjang empat bulan pertama 2026, total produksi mencapai 1,58 miliar ton, turun tipis 0,1 persen dibanding periode yang sama 2025. Impor batu bara China memang menyusut tahun ini, tapi ekspor ikut dikekang. Beijing tidak mau mengekspor sesuatu yang kini semakin ia butuhkan sendiri.
Di sisi pasar, batu bara Newcastle diperdagangkan di US$138,5 per ton pada Senin (18/5/2026), tertinggi dua pekan terakhir. Angka yang tidak main-main. Penguatan ini ditopang harga minyak yang masih membara: WTI bertengger di US$108,66 per barel, Brent menguat ke US$112,10 per barel. Batu bara dan minyak memang cenderung bergerak seiring ketika sentimen suplai energi global memanas.
Vietnam menyempurnakan gambaran ini. Produksi listrik berbasis batu bara negara itu meledak 12,3 persen ke rekor 17.864 GWh pada April, sebagian dipicu gelombang panas Asia Tenggara yang mendongkrak permintaan listrik. Impor batu bara listrik Vietnam mencapai rekor 5,4 juta ton pada bulan yang sama. DBX Commodities memperkirakan impor batu bara termal Asia di luar China dan India naik 9,4 persen menjadi 31 juta metrik ton pada Mei.
"Nilai batu bara kini makin ditentukan oleh keamanan pasokan, bukan sekadar ekonomi," kata CEO DBX Commodities Alexandre Claude. Kalimat itu, kalau data ini bisa dipercaya, merangkum dengan tepat apa yang sedang terjadi di seluruh kawasan. Adapun ironi terbesar justru datang dari Beijing: China tahun lalu menyumbang 78 persen dari seluruh kapasitas pembangkit batu bara baru yang beroperasi di dunia, dan menguasai 86 persen kapasitas global yang sedang dibangun. Transisi energi terbarukan yang digaungkan pun terasa bak gayung bersambut dengan kenyataan yang sebaliknya.
Pertanyaannya, berapa lama perang ini berlanjut sebelum pasokan LNG pulih dan membalikkan seluruh kalkulasi ini?