Investor kripto Indonesia sudah menyentuh angka 22,69 juta orang. Tapi yang lebih menarik bukan soal jumlahnya, melainkan ke mana industri ini sebetulnya melangkah.
Sepanjang 2026, narasi besar industri blockchain Indonesia mulai bergeser. Bukan lagi semata soal harga Bitcoin yang naik-turun atau volume transaksi di exchange, melainkan sesuatu yang lebih fundamental: bagaimana teknologi blockchain dipakai untuk menciptakan nilai ekonomi di luar ekosistemnya sendiri. Tokenisasi real world assets (RWA), monetisasi kekayaan intelektual berbasis blockchain, hingga pembangunan infrastruktur digital jadi kata-kata yang makin sering terdengar di forum industri.
Indonesia Blockchain Week 2026 yang berlangsung pekan ini menjadi salah satu panggung paling jelas untuk membaca peta ini. CEO Indodax William Sutanto, salah satu figur paling dikenal di ekosistem kripto nasional, menyampaikan pandangan yang agaknya mencerminkan sentimen umum pelaku industri saat ini. Ia melihat transisi pengawasan aset kripto dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjalan lebih mulus dari yang banyak orang khawatirkan.
"Kami tidak melihat transisi ke OJK sebagai sesuatu yang perlu ditakuti. Pendekatan soft landing membuat proses perubahan berjalan cukup baik. Yang terpenting adalah bagaimana kepastian regulasi yang semakin kuat dapat menjadi fondasi bagi industri untuk menjadi ruang inovasi dan integrasi yang lebih luas dengan ekosistem keuangan dengan tetap menjaga perlindungan konsumen," ujar William dalam panel diskusi di Indonesia Blockchain Week 2026.
William juga tidak menutup mata terhadap dinamika yang mulai menggelisahkan. Jumlah exchange berizin terus bertambah, yang di satu sisi memberi lebih banyak pilihan bagi konsumen. Masalahnya, kalau volume pasar tidak tumbuh sepadan, konsolidasi hampir tak terhindarkan. Ini bukan prediksi gelap, ini aritmatika bisnis sederhana.
"Semakin banyak pemain tentu memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Namun, kita juga perlu melihat bagaimana pasar terus berkembang. Karena jika jumlah pemain bertambah sementara volume pasar tidak tumbuh sejalan, konsolidasi bisa menjadi salah satu dinamika yang terjadi," kata William. Kalimat yang terdengar hati-hati, tapi punya implikasi besar bagi pemain kecil yang kini mulai marak.
Di luar perdebatan soal regulasi, yang lebih menarik dicermati adalah perluasan pemanfaatan blockchain ke sektor ekonomi kreatif. Tokenisasi kekayaan intelektual membuka kemungkinan baru: musisi, desainer, kreator konten bisa memonetisasi karya mereka lewat mekanisme yang jauh lebih transparan dan langsung dibanding royalti konvensional. Bukan hype semata. Beberapa proyek sudah mulai berjalan, meski masih dalam skala terbatas.
Ekosistem pendukung pun ikut bergerak. Di ajang Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 yang berlangsung 11-13 Agustus di JIExpo Kemayoran, platform distribusi siaran pers VRITIMES tampil dengan proposisi yang cukup relevan bagi perusahaan blockchain yang mulai serius membangun reputasi. Tiga pilar yang mereka tawarkan, yakni brand awareness lewat jaringan ratusan media, optimasi SEO, dan kesiapan AIO (Artificial Intelligence Optimization), mencerminkan betapa cepat lanskap pemasaran digital berubah seiring adopsi AI.
Konvergensi antara blockchain, regulasi yang makin matang, dan infrastruktur digital pendukung ini membentuk satu gambar besar: Indonesia sedang membangun fondasi untuk industri kripto yang bukan cuma besar dari sisi jumlah investor, tapi juga dalam dari sisi kontribusi ekonomi. Pertanyaannya, apakah fondasi itu cukup kokoh? Jawabannya akan terlihat dari seberapa serius OJK memberi ruang inovasi sambil menjaga konsumen tetap terlindungi.