MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kota Bizantium Nyaris Utuh Terkuak di Gurun Mesir

Internasional

Kota Bizantium Nyaris Utuh Terkuak di Gurun Mesir

Arkeolog menemukan kawasan perkotaan era Bizantium abad ke-4 di oasis Dakhla, Mesir, lengkap dengan basilika, sistem jalan terencana, koin kuno, hingga 200 keping ostraca yang merekam kehidupan sehari-hari penduduknya.

Kota Bizantium yang hampir utuh terungkap di gurun Mesir.

Di kedalaman oasis Dakhla, jauh di hamparan gurun Mesir bagian barat, sebuah kota yang pernah hidup pada abad ke-4 muncul kembali ke permukaan. Bukan sekadar reruntuhan biasa. Kawasan perkotaan era Bizantium ini terjaga dalam kondisi luar biasa, lengkap dengan infrastruktur, artefak, hingga jejak-jejak ritual yang merekam kehidupan penduduknya dengan detail yang membuat para arkeolog kesulitan menyembunyikan kekagumannya.

Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut temuan ini sebagai jendela langka ke masa ketika Mesir menjadi bagian dari Kekaisaran Bizantium. Tata kotanya bukan asal jadi. Jalan-jalan membentang dari utara ke selatan, berpotongan dengan jalur timur-barat, menciptakan grid yang menghasilkan alun-alun dan ruang publik di tiap persimpangannya. Hisham El-Leithy, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalan Mesir, menegaskan bahwa kawasan perumahan itu direncanakan dengan serius. Bagi zamannya, ini bukan kampung.

Sebuah basilika berdiri sebagai titik tumpu permukiman. Mahmoud Massoud, ketua tim arkeologi, menyatakan gereja itu dibangun sekitar pertengahan abad ke-4 dan menghadap langsung ke jalan-jalan utama. Di sekelilingnya, dua menara pengawas dan sejumlah struktur pertahanan berdiri, agaknya bukan ornamen, tapi benar-benar difungsikan melindungi seluruh kawasan.

Rumah-rumah yang ditemukan bukan gubuk. Banyak memiliki ruang penerimaan tamu, kubah, dinding kokoh, dapur lengkap dengan oven, penggilingan batu. Semua tanda permukiman urban yang mapan. Dari sela-sela reruntuhan, tim mengangkat sejumlah besar koin tembaga bergambar kaisar Bizantium, masih berisi prasasti Latin dan simbol-simbol Kristen. Beberapa koin emas berhasil diidentifikasi berasal dari masa Kaisar Romawi Constantius II, yang berkuasa antara 337 hingga 361 Masehi. Lebih dari 1.600 tahun di bawah pasir, dan masih bisa dibaca.

Yang paling membuat peneliti sosial berhenti sejenak adalah sekitar 200 keping ostraca, pecahan tembikar yang lazim dipakai sebagai "kertas" untuk mencatat transaksi, korespondensi, dan urusan sehari-hari. Diaa Zahran, Kepala Departemen Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi, menjelaskan bahwa isi ostraca tersebut memungkinkan rekonstruksi kehidupan sosial yang cukup gamblang, dari aktivitas perdagangan hingga surat-menyurat warga biasa. Arsip dalam bentuk pecahan gerabah, entah kebetulan atau tidak, justru lebih awet dari banyak dokumen sejarah lainnya.

Sekitar 100 km barat Alexandria, tim berbeda sedang menggali cerita lain. Di Marina el-Alamein, 18 makam tambahan ditemukan, membawa total temuan di lokasi itu menjadi 48 makam. Sebelas dipahat langsung ke dalam batuan, tujuh dibangun dari batu kapur di permukaan. Empat jenazah ditemukan dengan potongan emas di mulut mereka. Ritual "lidah emas" ini mencerminkan kepercayaan bahwa arwah masih perlu berbicara di alam baka. Bukan main.

Dari makam-makam itu juga keluar bejana keramik, guci amfora, lampu minyak, altar batu kapur, sarkofagus granit sepanjang sekitar 2,5 meter yang masih berisi sisa-sisa manusia, dan yang cukup mengejutkan, sisa-sisa patung Sphinx dari plester. Marina el-Alamein diyakini sebagai bekas kota pelabuhan Yunani-Romawi kuno bernama Leukaspis, yang sempat berjaya dari abad ke-2 hingga ke-4.

Oasis Dakhla kini sudah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO. Statusnya bukan penghargaan administratif semata. Pengakuan bahwa apa yang tersimpan di sana jauh lebih berharga dari sekadar batu tua di pasir.