SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kostyantynivka Jatuh, Jalan Menuju Jantung Donbass...

Internasional

Kostyantynivka Jatuh, Jalan Menuju Jantung Donbass Kini Terbuka

Rusia mengklaim telah merebut penuh Kostyantynivka, simpul logistik krusial di Ukraina timur yang menjadi benteng terakhir sebelum Kramatorsk dan Sloviansk. Putin muncul berseragam militer untuk umumkan kemenangan strategis ini.

Rusia Rebut Kostyantynivka, Jalur Menuju Kota-kota Besar Ukraina Timur Kini Terbuka

Kostyantynivka kini berada di tangan Rusia. Kota industri di jantung Donbass itu jatuh pada Jumat (3/7/2026), menandai salah satu kemajuan teritorial paling besar Moskow sejak awal tahun ini.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov yang pertama mengumumkan kabar ini kepada wartawan. "Konstantinovka telah sepenuhnya direbut. Kota ini sekarang seluruhnya berada di bawah kendali kami," ujar Peskov. Tak lama berselang, Putin muncul di televisi mengenakan seragam militer di hadapan staf umum, menyampaikan terima kasih kepada pasukan di lapangan. Jatuhnya kota ini, tegasnya, membawa kepentingan strategis yang besar.

Kostyantynivka bukan kota biasa. Berdiri sejak akhir abad ke-19 seiring ekspansi jalur kereta api dan industri berat, kota berpenduduk sekitar 67.000 jiwa ini pernah menjadi salah satu pusat produksi kaca, logam, bahan kimia, dan manufaktur mesin era Uni Soviet. Letaknya di persimpangan jalan raya dan rel kereta api menjadikannya simpul logistik vital yang menghubungkan Kramatorsk, Sloviansk, Druzhkivka, hingga Chasiv Yar. Putin sendiri menyebut kota ini sebagai "pusat transportasi utama dan pusat industri utama Donbas."

Dengan Kostyantynivka dikuasai, koridor menuju Kramatorsk dan Sloviansk, dua kota terakhir yang masih digenggam Kyiv di Donetsk, kini agaknya lebih terbuka. Kedua kota itulah yang selama ini menjadi incaran utama Kremlin di Donbass. Pertempuran memperebutkan Kostyantynivka sendiri sudah berlangsung sejak akhir 2025, dan kini menjadi salah satu titik terpanas di sepanjang garis depan yang membentang lebih dari 1.000 kilometer.

Meski klaim kemenangan sudah dilontarkan, operasi di lapangan belum sepenuhnya rampung. Komandan militer Rusia Anton Grunis menyatakan pasukannya masih terlibat dalam operasi pencarian dan eliminasi terhadap sisa-sisa tentara Ukraina yang dilaporkan bersembunyi di gedung-gedung, ruang bawah tanah, dan reruntuhan. Pertempuran kota hampir selalu menyisakan perlawanan tersembunyi, bahkan setelah pengumuman resmi kemenangan. Bukan hal baru.

Pengumuman ini datang bersamaan dengan serangkaian klaim ambisius dari Moskow. Putin mengungkapkan pasukannya telah menguasai 133 permukiman dan lebih dari 3.000 kilometer persegi wilayah di Donbass serta Novorossiya sejak awal 2026. Di front selatan, Kepala Staf Umum Valery Gerasimov menyebut pasukan Rusia kini hanya berjarak sembilan kilometer dari Zaporizhzhia, kota yang sebelum perang dihuni lebih dari 700.000 orang. Di utara, komandan lain melaporkan jarak 10 kilometer dari Sumy, ibu kota regional berpenduduk sekitar 250.000 jiwa.

Putin juga menegaskan pembentukan "zona penyangga keamanan" di sepanjang perbatasan Rusia dengan Ukraina berjalan sesuai rencana, mencakup wilayah Kharkiv, Sumy, dan Dnipropetrovsk. Framing-nya gamblang: semakin banyak serangan Ukraina terhadap fasilitas sipil Rusia, semakin luas zona penyangga yang akan dibangun. "Semakin banyak upaya musuh menyerang fasilitas sipil kami, semakin besar zona penyangga keamanan yang harus kami bangun di wilayah yang berbatasan," kata Putin. Klaim yang patut dicermati, kalau data di lapangan bisa dipercaya, mengingat narasi ini sekaligus berfungsi sebagai justifikasi ekspansi lebih lanjut.

Bagi Ukraina, kehilangan Kostyantynivka bukan sekadar angka di peta. Ruang gerak pertahanan di Donbass kian menyempit, dan ancaman terhadap kota-kota yang selama ini menjadi simbol ketahanan mereka kian mendekat. Pertanyaannya: berapa lama garis pertahanan berikutnya bisa bertahan?