SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Korupsi Tak Pandang Bulu: China dan Brasil Dihajar...

Internasional

Korupsi Tak Pandang Bulu: China dan Brasil Dihajar Skandal di Puncak Kekuasaan

Kampanye antikorupsi Xi Jinping kembali menghajar lingkar pertahanan dan antariksa China, sementara di Brasil, sekutu 40 tahun Presiden Lula terseret skandal bank yang sudah bangkrut.

Pemberantasan Korupsi China dan Brasil Seret Pejabat Elite dan Orang Terdekat Presiden

Enam jenderal militer, seorang mantan regulator keuangan, dan anggota Politbiro dicopot serentak dari Kongres Rakyat Nasional China pada 26 Juni 2026. Bukan angka kecil, dan bukan kebetulan.

Komite Tetap parlemen China mengumumkan pemecatan itu tanpa alasan spesifik, kebiasaan lama Beijing yang membuat pelaku pasar dan pengamat geopolitik hanya bisa menebak-nebak seberapa dalam lubang yang sedang digali. Di antara nama-nama yang rontok: Jenderal Xu Xueqiang, kepala Biro Pengembangan Peralatan Komisi Militer Pusat, sekaligus panglima tertinggi Program Luar Angkasa Berawak China sejak 2022. Sosok yang selama ini duduk di jantung modernisasi militer Beijing itu pergi tanpa penjelasan publik.

Xu bukan satu-satunya. Ma Xingrui, mantan anggota Politbiro yang sudah diusut CCDI sejak April 2026, masuk daftar yang sama. Bukan orang sembarangan: ia pernah menjadi manajer umum China Aerospace Science and Technology Corporation pada 2007-2013, wakil komandan program antariksa berawak, sekaligus komandan proyek roket generasi baru. Jaringan bawahannya pun tidak bersih. Tan Ruisong, bekas bos Aviation Industry Corporation of China, sudah divonis mati dengan penangguhan dua tahun pada Maret 2026 setelah terbukti menerima suap 700 juta yuan atau sekitar 103 juta dolar AS, plus penggelapan, perdagangan orang, dan pembocoran rahasia negara.

Kasus terbaru yang mencuat: Bian Zhigang, Wakil Kepala SASTIND sekaligus Wakil Direktur Badan Antariksa Nasional China (CNSA). CCDI mengumumkan penyelidikannya pada 24 Juni 2026 atas dugaan "pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum", frasa halus yang di Beijing artinya nyaris selalu sama. Korupsi dan suap. Profil Bian langsung dihapus dari situs resmi SASTIND begitu pengumuman itu keluar. Kemunculan publik terakhirnya tercatat di Forum Antariksa Rusia di Moskwa, April lalu.

SASTIND bukan pertama kali dihajar. Oktober 2025, Wakil Kepala sebelumnya Zhang Jianhua sudah lebih dulu dipecat dari Partai Komunis China karena suap. Pola berulang di lembaga yang mengawasi pengembangan senjata nuklir, roket, kapal selam, hingga satelit. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali satu nama jatuh, nama lain ikut terseret.

Sementara China bersih-bersih di sektor pertahanan, Brasil sedang bergulat dengan masalahnya sendiri, dan lebih politis sifatnya. Senator Jaques Wagner, figur yang berdiri di samping Presiden Luiz Inacio Lula da Silva selama empat dekade, mengundurkan diri dari posisi pimpinan Senat pada 25 Juni 2026. Ia terseret penyelidikan yang berpusat pada Daniel Vorcaro, pemilik Banco Master yang kini bangkrut.

Polisi Brasil menggeledah sejumlah properti terkait Wagner pekan lalu. Dugaannya: eksekutif Banco Master memberikan suap berupa apartemen dan uang tunai kepada Wagner dan keluarganya sebagai imbalan pengaruh politik. Wagner membantah semua tuduhan. Belum didakwa. "Saya baru saja bertemu dengan Presiden Lula, percakapan antarteman, dan kami memutuskan, atas kesepakatan bersama, bahwa saya akan mengundurkan diri dari peran kepemimpinan saya di Senat Federal," tulisnya di akun X.

Keputusan mundur itu bisa jadi kalkulasi politik, bukan pengakuan bersalah. Wagner, bekas Gubernur Bahia yang kandang utamanya Partai Pekerja, masih ingin bertarung mempertahankan kursi Senat dan membantu Lula menang di pemilihan presiden Oktober mendatang. Dengan kasus menggantung di kepala, posisi kepemimpinan justru lebih berisiko dari sekadar kursi senator.

Pertanyaannya, seberapa jauh jaring ini menjangkau? Ternyata cukup jauh untuk menyentuh kubu lawan. Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro dan salah satu kandidat yang diperhitungkan melawan Lula di Oktober, juga terseret. Ia mengakui mengatur pendanaan dari Vorcaro untuk sebuah film tentang ayahnya, meski mengklaim tidak ada pelanggaran hukum.

Dua negara, dua sistem. Satu cerita yang sama.