MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Korea Utara Murka atas Ucapan Jenderal AS: Korea S...

Internasional

Korea Utara Murka atas Ucapan Jenderal AS: Korea Selatan "Belati di Jantung Asia"

Pernyataan Jenderal Xavier Brunson yang menyebut Korea Selatan sebagai belati di jantung Asia memantik kecaman keras dari Pyongyang dan Beijing, di tengah spekulasi meluasnya peran militer AS untuk membendung pengaruh China.

Gara-Gara Ucapan Jenderal AS, Korea Utara Marah Besar

Satu metafora dari seorang jenderal AS ternyata cukup untuk mengguncang dinamika diplomatik Asia Timur sekaligus.

Jenderal Xavier Brunson, Komandan Komando PBB sekaligus Pasukan AS di Korea (USFK), menuai badai protes setelah menyebut Korea Selatan sebagai "belati di jantung Asia" dalam wawancara yang diterbitkan Strategic Studies Institute dari US Army War College. Brunson bahkan melangkah lebih jauh, mempersamakan Jepang sebagai "perisai" pertahanan terhadap ambisi regional China. Bagi Pyongyang dan Beijing, itu bukan sekadar kiasan militer, dan reaksi yang menyusul pun tidak main-main.

Melalui KCNA, analis Kim Myong Chol menyebut AS sebagai "pemimpin pengganggu perdamaian dan kekaisaran perang terburuk di dunia." Kim, yang berbasis di Jepang dan dikenal sebagai juru bicara tidak resmi Korea Utara di luar negeri, menilai pernyataan Brunson bukan slip of the tongue biasa. Ini, kata dia, cermin retak dari niat Washington menggunakan Seoul sebagai instrumen geopolitik untuk mengepung China.

Komentar itu mencuat saat spekulasi perluasan peran USFK kian keras terdengar. Saat ini sekitar 28.500 personel AS bertugas di Korea Selatan. Angka yang tidak kecil, dengan mandat yang kini terasa jauh lebih luas dari sekadar menjaga Semenanjung Korea dari ancaman nuklir Pyongyang.

Reaksi keras bukan cuma datang dari utara. Kedutaan Besar China di Seoul pekan lalu secara blak-blakan mengecam pernyataan Brunson sebagai sesuatu yang "benar-benar melampaui batas" dan sarat permusuhan terhadap Beijing, seraya mempertanyakan apakah ucapan sang jenderal sudah mendapat lampu hijau dari Washington. Pertanyaan yang agaknya lebih bernuansa sindirian daripada permintaan klarifikasi.

Seoul sendiri berada di posisi yang tidak nyaman. Kantor kepresidenan menyatakan telah mengetahui pernyataan tersebut dan terus menjaga komunikasi di berbagai tingkatan terkait semua isu yang relevan. News1 dan JTBC melaporkan bahwa Seoul bahkan telah menyampaikan kekhawatirannya langsung kepada pihak AS. Tidak mudah bagi sekutu untuk menegur mitra strategisnya sendiri, tapi rupanya kali ini terpaksa dilakukan.

Bertubi-tubinya reaksi ini tidak bisa dilepaskan dari arsitektur hubungan kawasan yang sudah terjalin puluhan tahun. China bukan sekadar tetangga bagi Pyongyang. Beijing adalah penyokong ekonomi dan diplomatik terbesar Korea Utara, satu-satunya penopang yang membuat rezim Kim bertahan dari tekanan sanksi internasional. Ketika seseorang mengusik Beijing, Pyongyang nyaris otomatis ikut bereaksi. Bak gayung bersambut, hanya versi yang jauh lebih suram.

Pertanyaannya kini: apakah pernyataan Brunson mencerminkan pergeseran resmi postur strategis AS di kawasan, atau sekadar ucapan seorang jenderal yang terlalu jujur di depan forum akademis? Jawaban atas pertanyaan itu, kalau data dan reaksi ini bisa dijadikan pegangan, bisa jadi lebih menentukan dari kecaman-kecaman yang sudah dilontarkan.