Angka 4.333. Itulah jumlah korban jiwa yang dikonfirmasi akibat gempa ganda yang memorak-porandakan Venezuela pada 24 Juni 2026, angka yang masih berpotensi bertambah lantaran ribuan orang masih dilaporkan hilang.
Ketua Parlemen Jorge Rodriguez mengungkapkan lewat akun Telegram-nya bahwa per 10 Juli, setidaknya 4.118 orang dinyatakan tewas dan 16.740 lainnya mengalami luka-luka. Bencana ini bermula dari dua gempa yang datang nyaris bersamaan: magnitudo 7,2 diikuti magnitudo 7,5 hanya dalam jeda 39 detik. Gempa kedua tercatat sebagai yang terkuat dalam lebih dari seabad terakhir di Venezuela, cukup kuat untuk meratakan seluruh blok apartemen bertingkat tinggi di negara bagian pesisir La Guaira.
Dampaknya brutal. Distrik-distrik La Guaira praktis rata dengan tanah. Tim penyelamat sudah menghentikan operasi pencarian korban selamat, tapi anggota keluarga korban belum menyerah. Mereka tetap menyisir reruntuhan dengan tangan kosong, berharap setidaknya bisa memberikan pemakaman yang layak bagi orang-orang terkasih yang tak pernah kembali.
Pada hari yang sama, gempa susulan berkekuatan magnitudo 3,0 mengguncang pusat Caracas dan langsung memicu kepanikan serta evakuasi sejumlah gedung. Skalanya jauh lebih kecil, tapi cukup untuk mengingatkan warga bahwa tanah di bawah kaki mereka belum sepenuhnya bisa dipercaya.
Dari sisi ekonomi, angkanya tidak main-main. Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana memperkirakan kerusakan fisik langsung pada sektor perumahan dan infrastruktur mencapai sekitar 37 miliar dolar AS atau sekitar Rp668,78 triliun. PBB sendiri sudah mengeluarkan seruan darurat pada 8 Juli untuk menggalang hampir 300 juta dolar AS guna membantu 1,3 juta orang yang paling membutuhkan.
Pemulihan berjalan tertatih, dihimpit tekanan berlapis. Pemerintah Venezuela yang selama ini kerap menekan organisasi non-pemerintah di negaranya kini justru membutuhkan mereka. Dapur dan klinik bergerak serta rumah sakit lapangan mulai bermunculan di ruang-ruang publik La Guaira, tanda bahwa respons awal memang tidak secepat yang dibutuhkan situasi. Gelombang protes pun muncul, warga mengekspresikan kemarahan atas penanganan yang mereka nilai jauh dari memadai, khususnya sebelum bantuan internasional tiba.
Pertanyaannya, dari mana Caracas mencari uang? Wakil Presiden Delcy Rodriguez meminta Raja Charles III untuk melepaskan sekitar 30 ton emas Venezuela yang saat ini dibekukan di bawah sanksi Inggris. Langkah itu sendiri sudah cukup menggambarkan betapa sempitnya ruang gerak fiskal pemerintah untuk membiayai pemulihan.
Respons internasional mulai mengalir dari berbagai jalur. FIFA Foundation mengumumkan alokasi dana sebesar US$1 juta melalui FIFA Foundation Humanitarian Fund untuk mendukung penanganan bencana. Solidaritas itu bahkan sudah muncul di lapangan hijau: laga Piala Dunia 2026 antara Timnas Inggris dan Panama di New York pada 27 Juni dibuka dengan mengheningkan cipta untuk mendoakan para korban.
"Masyarakat Venezuela mendapat solidaritas penuh dari keluarga besar sepak bola dunia di masa yang sangat sulit ini. Sepak bola memiliki kemampuan unik untuk menyatukan dan menginspirasi harapan, terutama saat terjadi krisis," ujar Presiden FIFA Gianni Infantino. Ketua Eksekutif FIFA Foundation Mauricio Macri menambahkan, "Pikiran kami bersama seluruh masyarakat yang terdampak gempa bumi ini. Melalui Humanitarian Fund, kami berkomitmen mendampingi masyarakat Venezuela dan mendukung organisasi-organisasi yang bekerja keras memberikan bantuan darurat kepada komunitas terdampak."
Federasi Sepak Bola Venezuela sendiri dilaporkan aktif menggerakkan komunitas domestiknya untuk ikut berkontribusi dalam pemulihan. Entah kebetulan atau tidak, momen Piala Dunia yang seharusnya jadi pesta bagi Venezuela justru berubah menjadi pengingat pahit tentang rapuhnya negara itu di hadapan bencana.