Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada 16 Mei 2026. Publik langsung bereaksi, tapi bukan karena decak kagum.
Video dan foto bagian dalam kopdes menyebar cepat di media sosial. Yang bikin orang berhenti scrolling bukan kemewahan interiornya, melainkan sebaliknya: rak-rak yang tertata asal, produk dikelompokkan berdasarkan warna kemasan, minyak goreng diletakkan di bawah AC, space kosong menganga di mana-mana. Warganet di Threads, termasuk sejumlah yang mengaku mantan pekerja retail, kompak mempertanyakan satu hal: apakah pengelola KDMP pernah mendengar kata planogram?
Planogram adalah panduan visual yang digunakan peritel modern untuk menentukan posisi produk di rak secara strategis, berdasarkan data penjualan, perilaku konsumen, dan psikologi belanja. Bukan sekadar estetika. Produk bermargin tinggi ditempatkan sejajar mata pembeli, minuman tidak diletakkan di rak paling bawah, produk pelengkap selalu berdampingan untuk mendorong penjualan silang. Alfamart dan Indomaret tidak menyusun rak mereka secara intuitif. Ada ilmu dan data di baliknya, dan itu butuh waktu bertahun-tahun untuk dikuasai.
Kritik soal tata letak ini agaknya hanya gejala dari masalah yang lebih dalam.
Ekonom Raden Pardede menyuarakan kekhawatiran yang lebih struktural dalam forum Economic Forum 2026 di Kempinski, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Ia mengamati sendiri video-video kopdes yang beredar dan menangkap persoalan intinya: produk yang dijual KDMP, dari kudapan hingga bahan pokok dan kebutuhan dapur, nyaris identik dengan yang ada di Alfamart, Indomaret, atau warung sekitar.
"Kita lihat, saya lihat YouTube baru-baru ini grocery items-nya mirip-mirip juga dengan Alfamart, Indomaret, dan juga warung di sekitar. Apakah this is new investment, new activities, atau dia hanya menjadi trade off dari sini shifting ke sini," kata Raden. Pertanyaan yang terdengar sederhana itu menusuk langsung ke jantung program senilai ratusan triliun ini.
Jika yang terjadi hanya perpindahan konsumen tanpa penciptaan aktivitas ekonomi baru, dampak bersih KDMP terhadap perekonomian desa akan sangat terbatas. Warung kehilangan pembeli, pegawai minimarket tergusur, lalu keduanya berpindah ke kopdes. Jumlahnya sama, lokasinya berbeda. Bukan pertumbuhan, hanya mutasi geografis.
Raden membandingkan KDMP dengan model koperasi yang terbukti berhasil di tempat lain. Fonterra di Selandia Baru, misalnya, tumbuh dari bawah: kumpulan peternak susu yang secara organik membentuk koperasi hingga berkembang menjadi raksasa global. Model bottom-up ini berbeda jauh dari KDMP yang bersifat top-down. Pemerintah merancang program, menyediakan pendanaan, membuka akses kredit, lalu masyarakat tinggal menjalankan desain yang sudah ditetapkan dari atas.
Bisakah pendekatan seperti ini menghasilkan koperasi yang tangguh dan mandiri? Raden tidak menutup kemungkinan KDMP bisa berhasil, tapi ia menegaskan efektivitasnya masih harus dibuktikan di lapangan. "Nah ini adalah menurut saya remain to be tested. Tapi saya di sini hanya mengingatkan the government. Impact-nya KDMP ini, jangan-jangan menjadi belum optimal," katanya, dengan nada yang lebih seperti peringatan daripada hujatan.
Dan itulah yang membuat diskusi ini penting bagi pelaku pasar. KDMP bersinggungan langsung dengan ekosistem ritel yang sudah ada, dari warung kelontong hingga jaringan minimarket yang sahamnya diperdagangkan di Bursa, seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kalau KDMP benar-benar hanya menggeser pasar tanpa memperbesar kuenya, ada pihak yang akan merasakan dampaknya. Kalau data transaksi kuartal depan bicara, bisa jadi jawabannya sudah mulai terlihat.