KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Komandan 'Hantu' Al-Qassam Gugur, Gaza Kembali Dig...

Internasional

Komandan 'Hantu' Al-Qassam Gugur, Gaza Kembali Digempur Serangan Berlapis

Israel membunuh komandan Brigade Izzuddin Al-Qassam yang dijuluki 'Hantu' dalam serangan udara di kawasan Rimal, Gaza, sementara bombardir artileri dan angkatan laut terus menghajar berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Zionis Israel terus gempur Jalur Gaza - ANTARA News Kalimantan Selatan

Tujuh warga sipil tewas, lebih dari 50 lainnya luka-luka. Begitulah harga yang dibayar kawasan Rimal, sebelah barat Kota Gaza, ketika Israel melancarkan serangan udara ke sebuah apartemen pada Sabtu (16/5/2026) yang diklaim menewaskan Izzuddin Al-Haddad, komandan Brigade Izzuddin Al-Qassam sekaligus tokoh yang selama ini dikenal dengan julukan "Hantu Al-Qassam".

Nama Al-Haddad memang tidak banyak beredar di permukaan. Israel memasang banderol senilai sekitar Rp12 miliar di kepalanya, dan ia tergolong sosok yang paling lama berhasil lolos dari incaran Tel Aviv. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz secara khusus mengumumkan operasi ini, menegaskan bahwa serangan dilaksanakan atas arahan langsung dari keduanya. Langkah yang jarang dilakukan, kecuali untuk target yang dianggap bernilai tinggi.

Serangan itu, menurut laporan jurnalis di lapangan, dilakukan dalam dua tahap yang terpisah beberapa menit. Tahap pertama menghantam apartemen tempat Al-Haddad diduga bercokol. Ketika korban luka dievakuasi menggunakan kendaraan menuju Rumah Sakit Al-Shifa melalui Jalan Al-Jalaa atau Jalan Yarmouk, kendaraan itu pun dibombardir. Pola serangan berlapis seperti ini agaknya dirancang untuk memutus jalur evakuasi dan memastikan target tidak lolos. Tiga perempuan dan seorang anak-anak ikut jatuh sebagai korban.

Rimal bukan sembarang lokasi. Kawasan itu salah satu wilayah terpadat di bagian barat Kota Gaza, persimpangan antara Jalan Al-Jalaa dengan sejumlah gang kecil permukiman warga. Menjadikannya medan operasi militer, entah kebetulan atau tidak, hampir selalu berujung pada jatuhnya korban sipil.

Sementara operasi pembunuhan terarah itu berlangsung di Kota Gaza, di bagian lain Jalur Gaza situasinya sama gentingnya. Artileri Israel menghantam wilayah timur dan selatan Khan Younis, kendaraan militer yang bercokol di dekat perbatasan melepaskan tembakan bertubi-tubi. Kamp pengungsi Al-Bureij di wilayah tengah ikut dihajar, memicu kepanikan massal di antara warga yang sudah berbulan-bulan terjebak dalam tekanan. Di garis pantai Kota Gaza, kapal-kapal angkatan laut Israel turut melepaskan tembakan ke arah pesisir.

Satu matra darat, satu matra laut. Dalam hitungan jam, nyaris seluruh sisi Jalur Gaza menerima serangan.

Israel Defense Forces dan Shin Bet menyatakan akan terus menjalankan kebijakan yang mereka sebut "menghilangkan ancaman", memburu pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober 2023. Tewasnya Al-Haddad disebut bagian dari rangkaian operasi sistematis yang masih berjalan. Setidaknya itu klaim Tel Aviv, yang kalau data ini bisa dipercaya, sulit diverifikasi secara independen mengingat minimnya akses jurnalis ke lokasi.

Pertanyaan yang lebih besar buat pengamat konflik: berapa banyak "hantu" yang harus gugur sebelum peta kekuatan Hamas benar-benar berubah? Debat itu sudah berlangsung sejak lama. Belum ada jawaban tunggal.