Untuk pertama kali dalam hampir empat dekade, Knesset Israel menuntaskan masa jabatan penuh empat tahunnya tanpa runtuh di tengah jalan. Pembubaran resmi parlemen ke-25 pada Jumat (17/7/2026) itu bukan sekadar formalitas administratif, titik awal dari pertarungan yang bisa menentukan nasib Benjamin Netanyahu sebagai pemimpin Israel.
Sejak 1988, sistem koalisi Israel yang notorius rapuh selalu membuat pemerintahan ambruk sebelum waktunya. Kali ini berbeda. Knesset bertahan penuh, dan Netanyahu kini harus menghadapi pemilih pada 27 Oktober mendatang dengan bekal yang, jujur saja, tidak terlalu meyakinkan.
Sebelum resmi masuk masa reses, parlemen menggelar sesi maraton semalaman yang melahirkan sejumlah regulasi yang langsung memantik kontroversi. Yang paling mencolok adalah Undang-Undang Komunikasi, lolos tipis dengan suara 53 berbanding 48. Aturan ini membubarkan regulator media independen dan menggantinya dengan otoritas penyiaran di bawah kendali pemerintah. Bagi sebagian pengamat, ini bukan langkah kebijakan biasa. Ini konsolidasi kekuasaan menjelang kampanye.
Koalisi Netanyahu, tercatat sebagai kabinet paling nasionalis dalam sejarah Israel, juga mengesahkan perlindungan bagi pria ultra-Ortodoks dari wajib militer. Dua paket legislasi itu dibaca satu tujuan: merekatkan mitra koalisi dari kelompok religius dan nasionalis agar tidak jebol sebelum kampanye benar-benar dimulai. Seperti yang dilaporkan stasiun televisi pemerintah Kan, langkah-langkah ini didesain untuk menjaga soliditas internal, bukan kepentingan publik luas.
Undang-Undang Pendanaan Partai turut resmi disahkan dalam sesi yang sama, membuka keran dana negara untuk keperluan kampanye sekaligus mengukuhkan secara hukum tanggal pemungutan suara 27 Oktober 2026.
Masalah sesungguhnya Netanyahu, bagaimanapun, bukan di dalam parlemen. Ada di jalanan dan di angka survei. Kemarahan publik terhadap perang, terutama konflik dengan Iran yang dianggap tidak populer, menghantam elektabilitas Likud. Dalam sejumlah jajak pendapat terkini, partai besutan Netanyahu itu tertinggal dari kubu oposisi. Blok koalisinya pun masih jauh dari ambang 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Ancaman terbesar datang dari arah yang agaknya tidak banyak diantisipasi sebelumnya. Yashar, partai sentris yang baru dibentuk dan dipimpin mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot, kini melampaui elektabilitas Likud dalam beberapa survei. Eisenkot bukan politisi biasa. Rekam jejak militernya membuat ia sulit diserang dari sudut kredibilitas pertahanan, justru arena yang selama ini menjadi benteng Netanyahu.
Dari kubu oposisi lain, Avigdor Liberman, pemimpin Yisrael Beiteinu, sudah menyuarakan optimismenya. "Pada 27 Oktober, kami akan menang. Kami akan mengganti pemerintah dan membangun kembali negara," tegasnya di media sosial.
Apakah Netanyahu benar-benar tamat? Terlalu dini. Ia sudah berkali-kali dianggap terpojok, dan berkali-kali lolos, bak kucing dengan nyawa cadangan. Tapi kombinasi antara kelelahan publik akibat perang, tekanan hukum yang belum selesai, serta munculnya figur sekaliber Eisenkot membuat pemilu Oktober ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tiga bulan kampanye masih panjang, dan di Israel, banyak hal bisa berubah dalam semalam.