MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kim Jong Un Pamer Kedekatan dengan Beijing Sebelum...

Internasional

Kim Jong Un Pamer Kedekatan dengan Beijing Sebelum Trump Tiba di China

Wang Yi memuji Korea Utara yang tetap maju di bawah tekanan AS, sementara Kim Jong Un memperkuat kesetiaan pada kebijakan Satu China. Momen ini terjadi persis sebelum Trump bertolak ke Beijing.

Tiga hari uji coba rudal berturut-turut. Lalu pertemuan diplomatik tertinggi Beijing-Pyongyang dalam enam tahun terakhir. Bukan kebetulan.

Kim Jong Un memilih momen yang sangat tepat untuk mempertontonkan keakrabannya dengan China. Kunjungan Menteri Luar Negeri Wang Yi ke Pyongyang pada Jumat (10/4/2026) jadi sinyal terang bahwa Korea Utara sedang memposisikan diri sebagai kartu yang relevan sebelum Presiden AS Donald Trump bertandang ke Beijing.

Dari pertemuan itu, Kim dan Wang menegaskan ulang hubungan bilateral yang "erat dan kokoh", demikian lapor Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). Bukan sekadar basa-basi diplomatik. Kim sekaligus mengukuhkan dukungan Pyongyang terhadap kebijakan Satu China, sebuah gestur yang nilainya besar saat Washington terus menekan Beijing soal Taiwan.

Wang Yi tidak pelit pujian. Ia mengapresiasi pencapaian Korea Utara yang dinilai berhasil terus melangkah maju meski dihajar sanksi dan tekanan bertubi-tubi dari Amerika Serikat. Keberhasilan itu, menurut Wang, buah dari kepemimpinan Kim Jong Un.

Pujian semacam itu jarang meluncur dari mulut diplomat Beijing, yang biasanya memilih diksi lebih hati-hati soal Pyongyang.

Konteks lebih besarnya agaknya tak bisa diabaikan. Beberapa bulan sebelumnya, Kim sudah berdiri satu panggung bersama Xi Jinping dan Vladimir Putin dalam parade militer di Beijing, pertemuan yang oleh Wang Yi sendiri disebut "pertemuan bersejarah." Kini kombinasi uji coba senjata dan kunjungan diplomatik ini terasa seperti kelanjutan yang disengaja dari momen itu. Terencana. Rapi.

Soal senjata yang diuji, bukan yang sembarangan. Di antara amunisi yang dilontarkan pekan ini, terdapat dugaan penggunaan amunisi kluster serta bom yang dirancang untuk menyerang jaringan listrik musuh. Bisa jadi ini pelajaran yang dipetik langsung dari Ukraina, di mana pasukan Rusia dan drone-drone murah sudah membuktikan betapa lethalnya serangan terhadap infrastruktur energi.

Segitiga Pyongyang-Beijing-Moskow kian solid. Kim membangun narasi Korea Utara bukan sebagai negara terisolasi yang sekarat di bawah blokade, melainkan sebagai kekuatan nuklir dengan kawan-kawan yang tidak bisa dianggap enteng.

Pertanyaannya: di meja mana Kim Jong Un sebenarnya duduk, kalau Trump dan Xi akhirnya bertemu?

Bagi Trump yang hendak duduk semeja dengan Xi, kalkulasinya jadi jauh lebih rumit dari yang mungkin ia bayangkan. Korea Utara bukan lagi variabel yang bisa diabaikan atau diangkat sebagai kartu tekanan tersendiri terhadap Beijing. Pyongyang kini hadir sebagai bagian dari arsitektur geopolitik yang lebih luas, dan Beijing, setidaknya dari tampak luarnya, tampaknya tidak keberatan dengan peran itu sama sekali.