MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kim Jong-un Pacu Produksi Artileri, Howitzer 155 m...

Internasional

Kim Jong-un Pacu Produksi Artileri, Howitzer 155 mm Siap Digelar di Perbatasan

Kim Jong-un turun langsung ke pabrik amunisi, menetapkan target produksi peluru presisi tinggi dan memperkuat pasukan howitzer di perbatasan Korea Selatan.

Kim Jong-un Instruksikan Penguatan Artileri dan Mortir Korea Utara

Kim Jong-un tidak sedang basa-basi.

Senin lalu, pemimpin Korea Utara itu menyambangi sejumlah pabrik amunisi utama, bukan untuk seremoni potong pita. Ia datang untuk memastikan rencana produksi amunisi nasional semester pertama 2026 berjalan sesuai jalur, dan pergi dengan meninggalkan deretan instruksi yang cukup gamblang.

KCNA melaporkan Kim berulang kali menegaskan satu poin di tiap lokasi: perkuat pasukan mortir dan howitzer. Bukan cuma jumlahnya. Sistemnya. Ia menetapkan tugas konkret untuk membangun sistem produksi peluru serbaguna presisi tinggi dengan kaliber beragam, sambil mendorong percepatan pembangunan kompleks produksi artileri khusus dan fasilitas senjata ringan.

Satu angka yang patut dicermati: howitzer swagerak 155 mm. Kim sudah mengumumkan rencana pengerahan meriam jenis ini di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan sebelum tahun ini berakhir. Kaliber 155 mm bukan senjata ecek-ecek, ini standar artileri berat yang dipakai militer kelas satu dunia. Korea Utara sedang membangun jalur produksinya sendiri. Secara masif.

Kim tidak datang sendirian. Ia didampingi Jo Chun-ryong, Sekretaris Partai yang selama ini dikenal sebagai arsitek industri pertahanan Pyongyang, serta Kim Jong-sik selaku Direktur Pertama Departemen Industri Amunisi Partai. Dua nama berat dalam satu kunjungan, sinyal bahwa ini bukan inspeksi rutin.

Semua ini bukan muncul tiba-tiba. Akselerasi militer Pyongyang mengikuti rencana pengembangan pertahanan lima tahun yang diumumkan pada kongres partai Februari lalu. Pyongyang kini dalam mode eksekusi.

Sepekan sebelumnya, Kim juga memantau uji manuver kapal perusak Choe Hyon berbobot 5.000 ton menjelang masa penugasan resminya. Darat dan laut, digerakkan nyaris bersamaan.

Bagi Seoul dan Washington, rentetan langkah ini agaknya bukan sekadar unjuk gigi. Korea Utara sedang membangun kapasitas, bukan sekadar memamerkan yang sudah ada. Kalau data ini bisa dipercaya, pertanyaan yang relevan bukan lagi "apakah mereka serius", tapi sudah bergeser jauh: seberapa cepat mereka bisa siap.