Mike Johnson tidak memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ketua DPR Amerika Serikat itu secara terang-terangan menyebut Washington akan segera memasuki "fase baru" dalam perang dengan Iran, pernyataan yang disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, 24 Agustus 2026.
Bukan retorika biasa. Johnson melempar framing yang cukup keras: "Orang-orang Iran tidak dapat dipercaya di meja perundingan," katanya. Dia merujuk pada pengalaman sebelumnya di mana Teheran dianggap gagal memenuhi komitmen yang telah disepakati. Karena itu, setiap pembicaraan dengan Tehran harus dilakukan dengan kehati-hatian penuh.
Pernyataan Johnson muncul bersamaan dengan klaim Trump bahwa Iran sedang mengalami "keruntuhan total" akibat tekanan Washington. Dua narasi ini, kalau dibaca bersamaan, agaknya bukan kebetulan. Ini terasa seperti satu pesan yang sedang dikonstruksi kubu Republik: strategi tekanan maksimum sedang bekerja, dan mereka tidak akan berhenti.
Johnson juga memuji kebijakan Trump terkait program nuklir Iran. Pencegahan Iran dari kepemilikan senjata nuklir, katanya, memang telah menjadi tujuan seluruh pemerintahan AS sebelumnya. Bedanya, hanya Trump yang berhasil mencapainya, setidaknya itu klaim manajemen Capitol Hill.
Klaim semacam itu patut dicermati. AS telah meluncurkan apa yang digambarkan sejumlah pihak sebagai serangan finansial terbesar terhadap Iran. Di jalur Selat Hormuz, ketegangan belum mereda. Iran sendiri membantah narasi "keruntuhan" itu; Panglima militer mereka justru menegaskan bahwa perang modern ditentukan oleh ketahanan bangsa, bukan oleh serangan awal.
Johnson tetap menyebut AS sedang berupaya mengakhiri konflik. Framing ini sulit ditafsirkan sebagai sinyal de-eskalasi, bicara perdamaian sekaligus mengumumkan "fase baru" perang, ibarat pedang bermata dua. Pertanyaannya, ke mana arah "fase baru" itu? Pasar energi global dan pelaku bisnis di kawasan Timur Tengah agaknya akan terus memantau setiap kata dari Capitol Hill dengan sangat seksama.