SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kesepakatan Damai AS-Iran Runtuh, Jalan Menuju Per...

Internasional

Kesepakatan Damai AS-Iran Runtuh, Jalan Menuju Perdamaian Makin Gelap

Hanya sebulan setelah MoU ditandatangani, Trump menyatakan tak peduli dengan kesepakatan damai sementara itu. Di lapangan, baku serang kian sengit dan para pengamat mulai menyebut skenario terburuk: perang tanpa akhir.

Trump Sudah Tak Peduli Kesepakatan Damai dengan Iran

Kesepakatan damai yang dengan susah payah ditandatangani Washington dan Teheran pada 14 Juni 2026 kini tinggal dokumen tanpa makna. Trump, ketika ditanya soal pernyataan Iran yang menarik diri dari perjanjian itu, menjawab singkat dalam wawancara dengan NewsNation: "Saya tidak peduli."

Kalimat itu bukan sekadar retorika. Di Selat Hormuz, dua kapal tanker meledak setelah mengenai ranjau pada Sabtu (18/7/2026). Sehari sebelumnya, AS menyasar infrastruktur Iran. Iran membalas dengan menghantam pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Dan di Yordania, dua anggota militer Amerika tewas dalam serangan rudal balistik dan drone Iran. Perang yang seharusnya sedang dalam jeda justru berjalan penuh gas.

Teheran sudah kehabisan kata. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan negaranya tak lagi punya alasan untuk mematuhi ketentuan perjanjian itu karena AS mengingkari kewajibannya lebih dulu. "Teheran tidak berencana terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut dengan Washington dan hanya fokus membela negara," tegasnya. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyebut ini sebagai "perang esensial dan eksistensial", frasa yang dalam kosakata hubungan internasional dipakai saat suatu negara merasa kedaulatannya sekaligus kelangsungan hidupnya benar-benar dipertaruhkan.

Oh wait, em dash tadi harus dihapus. Mari luruskan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyebut ini sebagai "perang esensial dan eksistensial", frasa dalam hubungan internasional yang dipakai saat suatu negara merasa kedaulatannya sekaligus kelangsungan hidupnya benar-benar dipertaruhkan. Bukan sekadar retorika parlemen.

Trump terus mengklaim militer Iran sudah babak belur. Kepada Fox News ia menyebut senjata Iran berkurang hingga 91 persen sejak perang pecah 28 Februari 2026. Klaim yang masih perlu dibuktikan, kalau data ini bisa dipercaya, karena bocoran laporan intelijen AS yang beredar ke The Guardian pekan lalu menunjukkan gambaran berbeda: per Mei, Iran sudah mendapatkan kembali akses ke 30 dari 33 lokasi peluncuran rudal di sepanjang Selat Hormuz, plus kemungkinan telah memulihkan sekitar 70 persen persediaan rudal dan peluncurnya. Iran masih sanggup melayani permainan ini. Mau tidak mau harus diakui.

Dampak terberatnya justru berada jauh di luar medan laga. Harga energi global tercekik sejak konflik melibatkan Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan seperlima minyak dunia. Negara-negara Teluk, sekutu AS, terseret ke dalam pusaran yang tidak mereka pilih. Daniel Byman dari Program Peperangan, Ancaman, dan Terorisme CSIS mencatat bahwa di banyak negara, AS berpotensi dipersalahkan atas kesulitan ekonomi yang ditimbulkan, dengan konsekuensi jangka panjang berupa meningkatnya sentimen anti-Amerika. Bak gayung bersambut yang salah arah.

Meja perundingan kian jauh. Mediator dari negara-negara Arab dan Pakistan belum berhasil menunjukkan kemajuan nyata. Ketidakpercayaan antara kedua pihak sudah terlalu dalam. "Saya pikir, akhir yang paling mungkin adalah tidak adanya penyelesaian. Konflik ini telah berubah menjadi perang gesekan, dan perang gesekan cenderung berlangsung dalam jangka waktu sangat lama," kata Rosemary Kelanic, Direktur Program Timur Tengah Defense Priorities, kepada BBC. Pesimis, tapi sulit dibantah.

Trump memang terus mengancam Iran agar kembali ke meja perundingan sebelum mengalami "kehancuran lebih besar". Tapi ia tidak bisa menyebut tenggat waktunya. Iran menuntut AS dulu yang memenuhi kewajiban dalam kesepakatan sebelumnya, sembari menegaskan haknya untuk terus membalas serangan. Dua posisi yang saling menunggu, tanpa ada yang mau bergerak lebih dulu. Pertanyaannya, berapa lama kebuntuan ini bisa bertahan sebelum salah satu pihak kehilangan kendali?

Para analis menyebut hanya ada satu jalan yang realistis: menghidupkan kembali kesepakatan sementara dengan cakupan lebih komprehensif, meliputi keamanan jalur maritim, pencabutan sanksi, pembatasan nuklir, dan pengekangan aksi militer dari kedua sisi. Tanpa kerangka itu, pola kekerasan akan terus berulang. Entah kebetulan atau tidak, itulah persis isi MoU yang sebulan lalu sempat membuat dunia sedikit bernapas lega, sebelum keduanya kembali saling tembak.