Empat orang tewas setelah minibus sekolah yang membawa tujuh siswa menerobos palang perlintasan kereta yang sudah tertutup di desa Buggenhout, wilayah utara Belgia, Selasa pagi (26/5/2026). Dua di antara korban adalah anak-anak berusia 12 dan 15 tahun.
Kejadian berlangsung sekitar pukul 08.08 waktu setempat. Rekaman CCTV yang dirilis Infrabel, operator infrastruktur rel Belgia, memperlihatkan lampu merah sudah berkedip dan palang telah turun sepenuhnya ketika minibus mendekati perlintasan. Kendaraan itu sempat melambat, lalu nekat melaju, menerjang palang, dan masuk ke jalur rel. Kereta komuter yang datang tidak punya waktu untuk mengerem. Tabrakan tak terelakkan.
"Benturannya sangat keras," kata juru bicara Kepolisian Belgia, Frederic Sacre. Ia menggambarkan jumlah korban sebagai situasi "dramatis". Polisi sendiri menolak mengonfirmasi angka korban jiwa secara resmi kepada media.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan minibus hancur dan terguling di sisi rel, dikelilingi tenda-tenda darurat petugas penyelamat. Total penumpang sembilan orang: tujuh siswa, satu pendamping, seorang pengemudi.
Wakil Perdana Menteri Belgia Maxime Prevot mengonfirmasi insiden lewat platform X, menyebut empat orang tewas. Penyelidikan, kata dia, sedang berjalan. Kejaksaan umum Belgia pun membuka penyelidikan resmi, dengan dua fokus utama: kelalaian pengemudi yang mengabaikan sinyal, atau gangguan teknis pada kendaraan.
Menteri Dalam Negeri Bernard Quintin turut menyampaikan duka melalui media sosial. "Dengan sangat sedih, saya mengetahui kecelakaan tragis di Buggenhout," tulisnya. "Pikiran saya tertuju kepada para korban dan orang-orang terkasih mereka."
Dari Brussels, belasungkawa mengalir sampai ke tingkat Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan, "Belasungkawa terdalam saya sampaikan kepada keluarga korban dan orang-orang tercinta mereka. Hari ini, Eropa berduka bersama Belgia."
Sekolah tempat para siswa belajar menangguhkan kegiatan belajar mengajar tiga hari. Di luar lokasi kejadian, warga Buggenhout menaruh bunga dan lilin.
Belgia sejatinya sudah melengkapi perlintasan sebidangnya dengan sensor, lampu, dan palang otomatis. Infrastrukturnya tidak gagal pagi itu. Yang gagal, kalau rekaman CCTV bisa dijadikan pegangan, adalah keputusan di balik kemudi. Pertanyaannya sekarang: seberapa canggih pun sistem keselamatan dipasang, teknologi tidak bisa memaksa orang untuk berhenti.