KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kenapa Trump Pilih Pesawat Lawas ke Ankara , dan T...

Internasional

Kenapa Trump Pilih Pesawat Lawas ke Ankara , dan Tirai Ditutup Saat Lepas Landas

Kurang dari sehari setelah militer AS melancarkan serangan ke Iran, Trump meninggalkan Turki bukan dengan jet mewah hadiah Qatar, melainkan pesawat VC-25A lawas era Perang Dingin, lengkap dengan transponder yang dimatikan dan tirai jendela yang ditutup rapat.

Trump Berganti Pesawat Seusai Serang Iran

Kurang dari 24 jam setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan besar pertama ke Iran pasca-berakhirnya gencatan senjata, Donald Trump meninggalkan Ankara bukan dengan jet mewah yang selama ini ia pamerkan, melainkan dengan Boeing VC-25A lawas berwarna biru muda yang sudah tiga dekade mengangkut para presiden AS. Perpindahan itu terjadi Rabu (8/7/2026), seusai KTT NATO di Turki, dan langsung memantik pertanyaan yang tidak dijawab pihak mana pun.

Trump datang ke Ankara dengan Boeing 747-800 hadiah Qatar yang sudah dimodifikasi kontraktor pertahanan L3Harris Technologies, bercorak merah, putih, biru tua, dan emas. Jet itu, pada penerbangan luar negeri perdananya, justru diparkir lebih dulu di pangkalan RAF Mildenhall, Suffolk, Inggris timur, sementara sang presiden terbang dengan armada lama.

Dua hal langsung bikin pelacak penerbangan dan analis keamanan mengernyitkan dahi. Pertama, transponder pesawat Air Force One lama itu dinonaktifkan sesaat setelah lepas landas dari Ankara. Kedua, para wartawan di kabin pers diminta menutup tirai jendela selama lepas landas, tanpa penjelasan apa pun. Prosedur langka.

Memang, penonaktifan transponder bukan barang baru. Tindakan keamanan standar di zona konflik. Tapi ini bukan zona konflik, ini pertemuan NATO yang sudah lama dijadwalkan, dan penerbangan para pemimpin dunia lain dari Turki, termasuk dari Jerman dan Inggris, tetap mengudara dengan transponder yang bisa dilacak publik.

Speculasi pun bergulir. Iran tercatat punya sejumlah rudal dan drone berjangkauan sekitar 1.300 kilometer dari perbatasannya ke Turki. Angka yang tidak main-main, mengingat AS baru saja menghajar fasilitas Iran. Beda cerita kalau targetnya Inggris: jaraknya sekitar 4.000 kilometer, jauh melampaui kemampuan efektif persenjataan Teheran menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional.

Trump sendiri tidak membantah kekhawatiran soal keamanan, tapi juga tak mengonfirmasi apa pun. Di atas pesawat dalam perjalanan Turki ke Inggris, ia menghindari pertanyaan spesifik soal protokol sambil menyinggung dugaan upaya pembunuhan oleh Iran sebelumnya. "Saya sering membicarakan hal ini karena kehidupan seorang presiden sangat berbahaya," katanya. Lalu di atas jet Qatar yang baru, ia nyeletuk kepada seorang reporter, "Anda mungkin berada dalam penerbangan berbahaya karena orang-orang bejat yang harus kita hadapi", sebelum menyebut Iran sebagai "orang-orang sakit."

Di Truth Social, Trump membingkai perpindahan itu dengan nada nostalgia: ia ingin terbang dengan VC-25A biru muda lawas itu untuk "mengenang masa lalu." Versi resminya. Pilihan pesawat yang dibuat, agaknya, bicara lebih keras dari kalimat itu.

VC-25A bukan sekadar pesawat tua yang kebetulan masih laik terbang. Dirancang menjelang akhir Perang Dingin, armada ini dibangun tahan ledakan nuklir, dilengkapi sistem penanggulangan rudal, ruang operasi di dalam kabin, dan kemampuan pengisian bahan bakar di udara untuk keadaan darurat, meski fitur terakhir itu belum pernah dipakai saat presiden ada di dalamnya. Jet Qatar yang baru, sekinclong apa pun tampilannya, belum tentu punya semua lapisan pertahanan itu. Pertanyaannya, berapa banyak lapisan keamanan yang rela dikorbankan demi estetika?

Setelah singgah di RAF Mildenhall, Trump berpindah lagi ke jet Qatar untuk penerbangan pulang ke Washington. Sebelumnya, ia sempat menggelar tur singkat pesawat baru itu agar para tentara di pangkalan bisa melihat langsung. Gestur yang berfungsi ganda, pamer dan pembenaran mengapa jet itu perlu berada di Inggris sejak hari pertama.

Bagi pengamat geopolitik, rangkaian kejadian ini bukan urusan logistik penerbangan biasa. Cermin retak dari betapa cepatnya eskalasi Iran mengubah kalkulasi keamanan di level paling atas, bahkan dalam perjalanan diplomatik yang semestinya rutin.