KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Kelor Belum Masuk Meja Makan Australia, Ini Alasan...

Internasional

Kelor Belum Masuk Meja Makan Australia, Ini Alasan Ilmiahnya

Badan Standar Pangan Australia-Selandia Baru mengategorikan daun kelor sebagai novel food sejak November 2025, membuat petani lokal kebingungan jelang musim panen.

[POPULER GLOBAL] Daun Kelor Tak Boleh Dikonsumsi di Australia | Penumpang Pesawat Terisap Keluar Jendela

Daun kelor sudah jadi sayur bening di meja makan keluarga Lombok sejak generasi entah berapa, tapi di Australia, tanaman yang sama belum bisa masuk ke piring makan warga secara legal.

Sejak November 2025, Badan Standar Pangan Australia dan Selandia Baru (FSANZ) mengategorikan Moringa oleifera sebagai novel food, pangan baru yang belum punya riwayat konsumsi tradisional di sana. Kelor tidak bisa dijual sebagai bahan makanan sehari-hari sampai seluruh evaluasi keamanannya tuntas dan hasilnya konsisten. Para petani kelor yang membudidayakannya di Australia kini dirundung ketidakpastian, terutama soal nasib panen yang akan datang.

Bukan soal berbahaya atau tidak, agaknya itu yang perlu diluruskan lebih dulu. Ketua PDPOTJI, dr. Inggrid Tania, menegaskan kebijakan FSANZ bukan vonis bahwa kelor beracun, melainkan soal absennya tradisi konsumsi di kalangan masyarakat Australia. "Kelor menjadi pangan tradisional di banyak wilayah Asia, seperti India, Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, hingga kawasan sekitar India," jelas Inggrid. Masyarakat Australia tidak punya riwayat serupa, sehingga pengenalan kelor sebagai superfood harus melewati jalur evaluasi yang ketat.

Ketat di sini bukan sekadar basa-basi regulasi. FSANZ mensyaratkan pengujian toksisitas, efek reproduksi, hingga genotoksisitas pada hewan coba sebelum sebuah pangan baru bisa diakui aman. Masalahnya, hasil penelitian kelor sampai hari ini masih belum konsisten. Inggrid mencontohkan uji reproduksi yang hasilnya saling bertentangan: sebagian studi menunjukkan kelor memicu keguguran pada tikus, sebagian lain tidak menemukan efek tersebut sama sekali. Inkonsistensi ini bahkan muncul di antara sampel kelor yang sama-sama ditanam di tanah Australia, hanya berbeda negara bagian.

"Bahkan sama-sama ditanam di Australia, tetapi dari negara bagian yang berbeda hasil pengujiannya bisa berbeda. Jadi regulator ingin memastikan standar budidayanya juga jelas," kata Inggrid. Ada pula indikasi genotoksisitas dalam beberapa studi hewan, meski ia menekankan efek semacam itu belum terbukti terjadi pada manusia. "Belum tentu berefek seperti itu pada manusia. Tetapi regulator memang akan mengambil langkah yang paling aman sampai seluruh bukti ilmiahnya benar-benar konsisten," tambahnya.

Ada celah yang luput dari banyak pemberitaan: kelor tetap legal di Australia, asal dikemas sebagai obat herbal komplementer. Ekstrak kapsul kelor masih bisa beredar karena sudah melewati pengujian klinis di bawah regulator obat, yang di Australia dikelola terpisah dari regulator pangan. Yang dilarang hanya konsumsinya sebagai pangan sehari-hari, entah dijadikan sayur, teh, atau olahan lain yang dimakan rutin.

Paradoks, bukan? Kamu bisa beli kapsul ekstraknya di apotek, tapi tidak bisa menumisnya untuk makan siang. Perbedaan kerangka regulasi inilah yang membuat posisi kelor di Australia terasa ganjil. Bagi petani kelor yang berharap masuk ke pasar pangan, jalan masih panjang. Pertanyaannya, berapa lama ketidakpastian ini bertahan sebelum FSANZ akhirnya memberi jawaban.