MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kelas Menengah RI Menyusut, Fondasi Ekonomi Mulai...

Ekonomi

Kelas Menengah RI Menyusut, Fondasi Ekonomi Mulai Retak

Proporsi kelas menengah Indonesia anjlok dari 21,4% menjadi 16,6% dalam enam tahun, sementara 50,4% penduduk kini terjebak di zona transisi yang rentan. Bukan sekadar angka, ini sinyal bahwa mesin konsumsi nasional sedang batuk-batuk.

Kelas Menengah Terjepit: Bertahan atau Tersingkir?

Dua kuartal ini, data tentang kelas menengah Indonesia terus mengalir dengan nada yang sama: menyusut, terjepit, makin rentan. Riset terbaru Mandiri Institute yang mengolah data Susenas mengonfirmasi apa yang sudah lama dirasakan di lapangan.

Proporsi kelas menengah turun dari 21,4% pada 2019 menjadi 16,6% pada 2025. Dalam angka absolut, data BPS 2024 mencatat jumlahnya menciut dari sekitar 57,3 juta jiwa menjadi 47,2 juta, eh, bukan em dash, dari 57,3 juta ke 47,2 juta jiwa. Hilang sekitar 10 juta orang dalam lima tahun. Bukan angka kecil.

Yang agaknya lebih mengkhawatirkan bukan penurunan itu sendiri, tapi ke mana mereka pergi. Sebagian besar tidak jatuh ke kelompok miskin, melainkan tergelincir ke kategori "aspiring middle class", penduduk yang menuju kelas menengah tapi belum sampai. Proporsi kelompok transisi ini kini membengkak jadi 50,4% dari total penduduk pada 2025. Satu dari dua orang Indonesia, kalau kena satu guncangan ekonomi saja, bisa langsung turun kelas.

Ekonom menyebutnya middle class squeeze. Kelas menengah tidak hancur total, tapi dihajar dari dua arah sekaligus: pendapatan tumbuh lambat, biaya hidup mendaki lebih cepat. Inflasi sektor esensial seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan secara konsisten melampaui inflasi umum. Daya beli riil perlahan tergerus, sering tanpa disadari.

Hasilnya terbaca dari perubahan perilaku. Konsumsi makin selektif, berbasis kebutuhan pokok. Lebih banyak rumah tangga yang kini mengandalkan lebih dari satu sumber pendapatan. Ketergantungan pada kredit meningkat. Kelas menengah, kata para ekonom, sedang bergeser dari consumer class menjadi coping class. Lebih sibuk bertahan daripada berkembang.

Ironiknya, kelompok yang menyusut ini masih menanggung beban konsumsi yang tidak proporsional. Kontribusi mereka terhadap belanja rumah tangga nasional tetap di atas 80%. Tulang punggung yang mulai retak, tapi belum patah.

Kelas atas, mereka yang pengeluarannya melampaui 19 kali garis kemiskinan nasional atau di atas Rp10,3 juta per kapita per bulan, proporsinya nyaris stagnan di 0,4% selama tujuh tahun. Kecil, dan tidak ke mana-mana.

Proporsi penduduk miskin turun tipis ke 8,5%, kelompok rentan bertahan di kisaran 24%. Angka kemiskinan relatif terkendali, tapi jangan buru-buru lega. Yang jadi soal bukan hanya berapa yang miskin, tapi berapa banyak yang satu langkah dari jurang itu.

World Bank pernah mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi risiko middle income trap, kondisi ketika pertumbuhan ekonomi mandek akibat stagnasi produktivitas dan melemahnya mobilitas kelas menengah ke atas. Riset Katadata Indonesia Middle Class Insight 2026 memperkuat kekhawatiran itu. Entah kebetulan atau tidak, dua sumber berbeda sampai pada kesimpulan yang sama.

Bagi investor, sinyal ini bukan tanpa konsekuensi. Pelemahan kelas menengah berimplikasi langsung pada sektor-sektor yang hidup dari konsumsi domestik: ritel, properti residensial, barang konsumer, perbankan ritel. Kalau daya beli segmen terbesar ini terus tergerus, narasi "ekonomi domestik yang kuat" perlu dicermati ulang. Setidaknya, itu yang disarankan data.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah tren ini berlanjut. Tapi seberapa lama fondasi itu masih bisa menopang.