Kepulauan Pratas kembali jadi titik panas. Selama dua hari berturut-turut, kapal penjaga pantai China dan Taiwan terlibat saling hadang di perairan sekitar atol strategis itu, lengkap dengan adu klaim kedaulatan lewat komunikasi radio yang, jujur saja, nadanya cukup di luar kelaziman diplomatik.
Kapal China pertama kali mendekati kawasan Pratas pada Sabtu (23/5/2026). Taiwan langsung merespons dengan mengirim kapal penjaga pantainya sendiri dan memperingatkan melalui saluran radio. Di sinilah percakapan itu mulai menarik. Pihak China menyiarkan bahwa mereka tengah menjalankan misi rutin, sekaligus menegaskan bahwa Beijing memiliki kedaulatan serta yurisdiksi penuh atas Kepulauan Pratas. Taiwan tidak tinggal diam. Balik membalas, kapal Taiwan menyampaikan pesan yang terdengar lebih seperti ajakan politik ketimbang respons taktis: "Mohon jangan merusak perdamaian. Anda seharusnya kembali dan berjuang untuk demokrasi. Itulah cara yang benar untuk mengabdi kepada negara Anda."
Seorang pejabat Penjaga Pantai Taiwan kepada Reuters menyebut situasi ini tidak biasa dalam dua hal. Pertama, penggunaan frasa "yurisdiksi dan kedaulatan" oleh kapal China dinilai melampaui diksi standar yang biasa mereka pakai. Bukan sekadar klaim rutin. Kedua, kapal China bertahan di sekitar 21 mil laut di timur laut kepulauan itu jauh lebih lama dari pola operasi yang selama ini diamati.
Problematika Pratas bukan sekadar soal dua kapal. Kepulauan ini terletak di bagian utara Laut China Selatan, di antara Taiwan selatan dan Hong Kong, lebih dari 400 kilometer dari pulau utama Taiwan. Jarak itulah yang bikin Pratas rentan, kata sejumlah analis keamanan. Pertahanannya tipis, lebih banyak mengandalkan penjaga pantai ketimbang militer reguler, dan atol itu secara resmi berstatus taman nasional. Bukan persis benteng yang kokoh.
Belum genap lima bulan lalu, tepatnya Januari 2026, Taiwan sudah melaporkan drone pengintai China terbang melintasi Pratas. Kementerian Pertahanan Taiwan waktu itu menyebutnya "provokatif dan tidak bertanggung jawab." Kini insiden kapal berlangsung dua hari berturut-turut. Polanya agaknya menunjukkan intensitas yang meningkat, bukan sebaliknya.
China secara konsisten menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, klaim yang ditolak tegas oleh Taipei. Lima tahun belakangan, tekanan Beijing tidak pernah benar-benar surut, dari latihan militer berskala besar hingga peningkatan patroli di sekitar pulau utama. Pratas, dengan segala keterbatasan pertahanannya, bisa jadi sedang diuji sebagai titik yang paling mudah ditekan. Kantor Urusan Taiwan China hingga berita ini diturunkan belum memberikan respons atas permintaan komentar.