Ketegangan di perairan Teluk Oman kembali memanas. Sebuah jet tempur AS menghantam bagian buritan kapal kargo M/V Ocean Molica, juga dikenal sebagai Arika Sun, pada 10 Oktober lalu setelah kapal berbendera Panama itu mengabaikan peringatan dan nekad menerobos blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan tersebut merusak sistem propulsi kapal, sehingga Ocean Molica tidak lagi bisa melanjutkan pelayaran. Tidak ada korban jiwa di antara awak. Kapal itu sebelumnya meninggalkan pelabuhan Iran dan dicegat saat mencoba melintasi perairan regional.
Blokade laut AS terhadap Iran sendiri diberlakukan kembali pada 14 Juli, dua hari setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Dalam tiga bulan berjalan, empat kapal komersial berhasil dinetralkan dan 135 kapal lainnya dipaksa berbalik. Angka yang tidak main-main, terutama jika diingat betapa kritisnya jalur Hormuz bagi pasokan energi dunia. Di luar itu, 10 kapal tanker minyak yang diklaim terkait jaringan bahan bakar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga dihancurkan selama periode yang sama.
Sehari berselang, situasi makin keruh. Sebuah kapal tanker minyak komersial diserang drone di dekat Pelabuhan Sohar, Oman bagian utara, pada Minggu 11 Oktober. UKMTO awalnya mengklasifikasikan insiden ini sebagai aktivitas mencurigakan, sebelum akhirnya merevisi statusnya menjadi serangan setelah memastikan kapal memang tertembak drone. Dua pelaut India dinyatakan hilang pasca-kejadian, sementara otoritas setempat membantu evakuasi awak yang selamat. Tingkat kerusakan dan potensi dampak lingkungan masih dalam penyelidikan.
Yang memperumit gambaran, IRGC pada tanggal yang sama mengklaim sebuah kapal tanker super menabrak ranjau dan meledak saat mencoba meninggalkan Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diizinkan. Apakah ini merujuk pada insiden yang dilaporkan UKMTO, ataukah dua kejadian berbeda, sampai sekarang belum terkonfirmasi. Kalau data ini bisa dipercaya, dua laporan itu muncul dalam jendela waktu yang sangat berdekatan.
CENTCOM kini memperingatkan semua kapal komersial yang beroperasi di Teluk Oman dan sekitar Selat Hormuz untuk mematuhi pedoman blokade, memantau pemberitahuan maritim, dan menjaga kontak aktif dengan pasukan angkatan laut AS. Bagi pelaku pelayaran, pesan itu sudah jelas: zona itu bukan lagi perairan biasa.