Tiga kapal induk, dua kawasan berbeda, satu konflik yang tak kunjung usai. Itulah gambaran singkat pergerakan Angkatan Laut AS pekan ini, saat Washington terus mempertahankan tekanan militer di Timur Tengah seiring kebuntuan perang melawan Iran yang makin berlarut.
US Naval Institute melaporkan satuan tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt dijadwalkan berlayar dari San Diego dalam beberapa minggu ke depan untuk misi pengerahan lebih dari tujuh bulan. Pengerahan ini dimaksudkan sebagai pengganti USS George Washington yang sudah lebih dulu masuk kawasan Timur Tengah. Rotasi semacam ini bukan hal baru, tapi tunggu, em dash itu harus pergi. Rotasi semacam ini bukan hal baru. Yang berbeda sekarang hanyalah frekuensinya, yang terasa jauh lebih intens ketimbang sebelum konflik Iran meledak.
USS Abraham Lincoln menempuh rute berbeda. Kapal induk yang meninggalkan San Diego sejak November itu dijadwalkan tiba di Pelabuhan Laem Chabang, Pattaya, pada 2 September, membawa sekitar 5.000 pelaut dan marinir yang sudah lebih dari 200 hari tidak menginjak daratan. Rekor era modern, kata anggota parlemen AS dari Partai Demokrat, untuk jumlah hari berturut-turut bertugas di laut.
Angka itu bukan sekadar statistik. Dua media militer AS melaporkan adanya percobaan bunuh diri di atas kapal, penurunan semangat personel, dan memburuknya kondisi kesehatan mental secara umum. Penugasan terlalu panjang, tekanan operasional tinggi, jauh dari keluarga. Kombinasi yang berat, entah bagi prajurit sekaliber apapun.
Pattaya tahu betul apa artinya ribuan pelaut mendarat serentak. Menjelang labuhnya Abraham Lincoln, kepolisian setempat menggelar razia di sepanjang kawasan pantai dan pusat hiburan malam. Sekitar 40 hingga 50 orang ditahan dalam razia akhir pekan atas dugaan prostitusi. Patroli ditambah, pengawasan diperketat. "Kami berusaha semaksimal mungkin, tetapi ini sulit," kata Kepala Kepolisian Pattaya Anek Srathongyoo, mengakui bahwa penertiban di kota wisata sekelas Pattaya tidak pernah semudah mengeluarkan instruksi. Pekerja seks, ia jelaskan, bisa saja menawarkan jasa di tempat umum tanpa diketahui pihak berwenang.
Dari sisi Tehran, Iran tengah menyusun daftar tuntutan kepada AS sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyebut mediator seperti Pakistan dan Qatar yang meminta Tehran mempersiapkan daftar tersebut. Isinya mencakup pencabutan sanksi hingga penghentian perang regional secara menyeluruh. Rezaei tidak merinci lebih jauh. Bisa jadi memang belum ada yang bisa dirinci.
Trump tidak mau menunggu. Dari Gedung Putih, ia mengklaim Selat Hormuz sudah terbuka dan jutaan barel minyak mengalir setiap harinya. "Selat itu terbuka. Kita memegang kendali, dan kita melakukan blokade," tegasnya, dalam pernyataan yang terdengar lebih seperti pidato kemenangan ketimbang laporan lapangan. Angka yang patut dicermati, mengingat ketegangan di kawasan belum mereda dan pengerahan kapal induk ketiga justru sedang dipersiapkan.
Trump juga menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika", memantik reaksi keras dari PM Kanada Mark Carney yang menegaskan nama itu tidak akan berubah "dulu, sekarang, dan selamanya". Langkah itu hadir bersamaan dengan eskalasi perang dagang Ottawa-Washington. Sulit membacanya sebagai kebetulan.
Satu konflik berskala regional yang belum tuntas. Dan malam ini, di Pattaya, petugas kepolisian sedang menambah patroli.