Kapal kargo berbendera India dihantam ledakan dan tenggelam di lepas pantai Limah, Oman, pada Rabu (13/5/2026). Sehari kemudian, tepat saat New Delhi menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri BRICS yang juga dihadiri delegasi Iran, kecaman keras meluncur dari Kementerian Luar Negeri India. Entah kebetulan atau tidak, timingnya sulit diabaikan.
Kapal yang diidentifikasi sebagai MSV Haj Ali adalah dhow kayu tradisional sepanjang 54 meter. Saat insiden, kapal sedang dalam perjalanan dari Berbera di wilayah Somaliland, Somalia, menuju Sharjah di Uni Emirat Arab, mengangkut hewan ternak dengan 14 orang di atas geladak. Firma keamanan maritim Vanguard melaporkan ledakan yang diyakini berasal dari serangan drone atau rudal, memicu kebakaran hebat yang memaksa seluruh kru meninggalkan kapal sebelum lambungnya akhirnya amblas ke dasar laut.
Seluruh 14 kru selamat. Penjaga Pantai Oman berhasil mengevakuasi mereka dan merapat di Pelabuhan Dibba. Mukesh Mangal, pejabat senior Kementerian Pelabuhan dan Perairan India, mengkonfirmasi kepada kantor berita Anadolu.
Kemlu India tidak menyia-nyiakan momen. Dalam pernyataan resmi Kamis (14/5/2026), pemerintah menegaskan bahwa serangan terhadap kapal berbendera India di lepas pantai Oman sama sekali tidak dapat diterima. "Kami berterima kasih kepada otoritas Oman karena telah menyelamatkan mereka," tulis pernyataan itu, sebelum menambahkan seruan agar kebebasan navigasi dan perdagangan tidak dihalangi pihak mana pun. Bukan sekadar reaksi protokoler.
Serangan ini terjadi dalam konteks kawasan yang sudah lama mendidih. Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran menutup Selat Hormuz, jalur yang pada masa normal menyumbang sekitar seperlima dari seluruh pengiriman minyak dan LNG dunia. Gencatan senjata berlaku sejak 8 April lewat mediasi Pakistan, lalu diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Donald Trump. Tapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng, dan kapal-kapal di kawasan itu agaknya masih merasakan ekornya.
Di forum BRICS, Menlu S. Jaishankar berbicara dengan nada yang terukur tapi jelas. Konflik Timur Tengah, katanya, memerlukan perhatian khusus karena ketegangan yang berkelanjutan berisiko terhadap lalu lintas maritim dan infrastruktur energi global. "Arus maritim yang aman dan tanpa hambatan melalui jalur air internasional, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah, tetap vital bagi kesejahteraan ekonomi global," tegas Jaishankar.
Di ruangan yang sama, hadir Menlu Iran Abbas Araghchi. Soal kapal tenggelam itu, dia diam. Namun Araghchi menyampaikan posisi Teheran: Selat Hormuz terbuka bagi semua kapal komersial yang bekerja sama dengan angkatan laut Iran. Klaim yang, kalau diukur dari nasib MSV Haj Ali, masih perlu bukti lebih dari sekadar pernyataan.
Bagi India, taruhan di Hormuz bukan soal satu kapal. Sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia, gangguan di jalur ini menyentuh langsung ketahanan energi dan biaya logistik nasional. Kecaman yang meluncur dari New Delhi bukan semata respons emosional, setidaknya itulah sinyal yang ingin dikirimkan: India tidak akan diam saat kepentingan maritimnya dihajar di tengah krisis yang, sejatinya, bukan urusannya.