SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Kacamata Meta Patenkan Fitur Rekam Otomatis, Priva...

Tekno

Kacamata Meta Patenkan Fitur Rekam Otomatis, Privasi Jadi Taruhan

Meta mematenkan sistem kamera pada kacamata pintarnya yang mampu mengenali wajah dan merekam momen secara otomatis. Inovasi ini memantik kekhawatiran privasi di berbagai negara, termasuk larangan di ruang sidang Inggris dan pengaduan pidana di Jerman.

A front view of Meta Ray-Ban (gen 2) smart glasses

Meta baru saja mematenkan teknologi yang, di atas kertas, terdengar seperti impian: kacamata yang tahu sendiri kapan harus memotret, siapa yang layak masuk bingkai, dan momen mana yang cukup berharga untuk diabadikan. Tidak perlu sentuh tombol, tidak perlu keluarkan ponsel. Kacamata yang bekerja lebih keras dari fotografer profesional sekalipun.

Paten yang dipublikasikan Kamis lalu dan pertama kali dilaporkan 404 Media ini mendeskripsikan sistem yang mencari "titik menarik" dalam bidang pandang pengguna. Cara kerjanya: facial recognition mengidentifikasi orang-orang di sekitar, analisis ekspresi wajah menentukan apakah momen itu layak direkam, lalu data dari grafik sosial pengguna membantu sistem memutuskan siapa yang lebih "penting" dibanding orang lain di ruangan. Data pelacakan mata turut dilibatkan karena ke mana pengguna menatap juga jadi sinyal.

Bayangkan skenario yang digambarkan dalam dokumen paten itu: pengguna menghadiri pesta makan malam, dan setelah acara selesai, kacamatanya menyajikan koleksi foto serta klip video yang sudah dikurasi. Sistem bahkan bisa berinisiatif bertanya, "Saya telah membuat sorotan dari pesta makan malam malam ini. Apakah Anda ingin melihatnya?"

Paten Meta juga menyebutkan fitur "memori episodik". Sistem dapat menyambungkan momen yang baru direkam dengan arsip foto, video, kiriman, dan komentar lama untuk menjawab pertanyaan seperti "Apakah saya pernah bertemu pria berbaju T-shirt merah itu?" Pertemuan santai di dunia nyata berpotensi berubah menjadi catatan yang bisa dicari kapan saja. Bak buku harian yang menulis dirinya sendiri.

Bukan pertama kali Meta berjalan di wilayah abu-abu ini. Pada Juni lalu, Wired menemukan kode yang belum dirilis untuk fitur bernama NameTag di dalam aplikasi pendamping Meta AI. Jika diaktifkan, fitur itu bisa mengubah wajah yang ditangkap kacamata menjadi penanda biometrik dan mencocokkannya dengan sidik wajah di ponsel pengguna. Meta menghapus kode tersebut setelah investigasi diterbitkan, dengan pernyataan bahwa fitur itu tidak tersedia untuk konsumen. Paten baru ini, agaknya, adalah versi yang jauh lebih ambisius dari ide yang sama.

Kacamata Ray-Ban Meta sekarang memang laris karena tampilannya tidak mencurigakan. Terlihat seperti kacamata biasa. Indikator lampu putih yang ada saat ini cukup jelas saat pengguna sengaja menekan tombol. Tapi sistem yang menganalisis orang-orang di sekitar sebelum memutuskan apa yang direkam? Cerita lain. Orang yang berdiri di depan kamera mungkin tidak tahu bahwa kacamata telah mengenali mereka, menilai ekspresi mereka, atau memutuskan apakah reaksi mereka cukup menarik untuk diabadikan.

Reaksi hukum sudah mulai mengalir. Pada 12 Agustus, kelompok hak digital Jerman HateAid mengajukan pengaduan pidana terhadap Meta dan sejumlah perusahaan yang menjual kacamatanya di sana. Di Inggris, penggunaan kacamata ini dilaporkan telah dilarang di ruang sidang. Kekhawatiran soal rekaman diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain terus mengemuka di banyak tempat.

Memiliki paten bukan berarti produknya akan meluncur. Meta rutin mematenkan ide yang tidak pernah sampai ke tangan konsumen, dan itu fakta yang perlu diingat. Tapi dengan jejak NameTag yang sudah sempat masuk ke kode aplikasi, sulit menyebut ini sekadar eksplorasi hipotetis. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini bisa dibuat, melainkan apakah regulasi privasi di negara-negara tujuan pasar akan sempat mengejar sebelum kacamata itu tiba di rak toko.