Angkatan kerja Indonesia per Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang. Dari jumlah itu, 147,67 juta sudah bekerja, dan tingkat pengangguran terbuka berada di 4,68 persen. Sekilas terdengar sehat. Tapi ada yang aneh: di saat yang sama, lebih dari 30 persen perusahaan mengaku masih sulit merekrut tenaga kerja yang mereka butuhkan.
Riset Populix dan KitaLulus pada 2024 mencatat 46 persen perusahaan kesulitan mendapatkan kandidat sesuai kebutuhan. Bukan angka kecil. Dan ini bukan soal perusahaan yang terlalu pemilih, atau pencari kerja yang terlalu malas kirim lamaran. Persoalannya lebih struktural dari itu.
Bhima Yudhistira, Direktur Utama Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebut akar masalahnya bukan pada jumlah orang yang ingin bekerja. "Data menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 153 juta orang, namun hanya 12,66 persen yang memiliki pendidikan tinggi, dan lebih dari 30 persen perusahaan mengalami kesulitan merekrut talenta berkualitas," kata Bhima. Artinya, sebagian besar dari puluhan juta pencari kerja itu memasuki pasar tanpa bekal keterampilan yang benar-benar siap pakai.
Akar masalah ini sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum seseorang mengirim CV pertamanya. Hasil PISA 2022 menemukan hanya 18 persen siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai minimal Level 2 dalam matematika, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69 persen. Fondasi yang rapuh di bangku sekolah membuat jurang keterampilan kian menganga ketika seseorang akhirnya memasuki dunia kerja.
Perusahaan kini tidak sekadar mencari ijazah. Mereka mencari orang yang bisa mengoperasikan teknologi, menyelesaikan masalah, berkomunikasi efektif, dan punya portofolio nyata. Kebutuhan ini paling terasa di sektor digital dan ekonomi kreatif: pengembangan perangkat lunak, animasi, desain, hingga produksi konten. Sektor yang tumbuh cepat, sementara tenaga kerjanya belum tumbuh secepat itu.
Lalu muncullah lingkaran setan yang familiar. Pencari kerja butuh pekerjaan pertama untuk dapat pengalaman, perusahaan minta pengalaman untuk posisi paling pemula sekalipun. Siapa yang kalah? Hampir selalu yang baru lulus.
Kalau masalahnya sudah pelik di tingkat individu, di tingkat geografis lebih runyam lagi. Sekitar 58 persen tenaga kerja ekonomi kreatif masih terkonsentrasi di tiga provinsi Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Masalah yang paling krusial adalah gap karena konsentrasi geografis. Sebanyak 58 persen tenaga kerja industri kreatif masih tersedia di tiga provinsi Jawa, sementara wilayah Indonesia Timur sangat kecil," kata Bhima. Akses ke pelatihan, magang, jaringan profesional, dan perusahaan digital tidak merata. Bagi pencari kerja di luar pusat ekonomi, pilihan sering cuma satu: pindah kota.
Ada risiko yang lebih serius lagi. Bhima mengingatkan bahwa kesulitan merekrut tenaga terampil bisa mempercepat adopsi kecerdasan buatan oleh perusahaan, bukan karena AI lebih pintar, melainkan karena lebih murah dan lebih mudah dikonfigurasi untuk kebutuhan spesifik. Kalau jalur peningkatan keterampilan tidak segera diperluas, jarak antara pencari kerja dengan kebutuhan industri bisa makin menganga. Pertanyaannya, berapa lama tenaga kerja manusia punya waktu untuk menyesuaikan diri?
Ini bukan semata kelalaian pencari kerja. Tuntutan yang menghantam mereka, sekolah tinggi, kuasai bahasa asing, pahami teknologi, punya pengalaman, kerja dalam tim, tahan tekanan, dan kadang tetap harus terima gaji tak jauh dari upah minimum, agaknya terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Sistem yang seharusnya mempertemukan potensi dengan kesempatan belum bekerja sebagaimana mestinya.
Solusi yang kerap disebut, penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, perluasan magang, dan sertifikasi profesi, bukan ide baru. Sudah lama dibahas, bahkan sudah ada program-programnya. Tapi realisasinya masih berjalan di rel masing-masing: pemerintah punya skemanya, industri punya kriterianya, kampus punya kurikulumnya. Selama ketiganya tidak benar-benar tersambung, paradoks ini tidak akan kemana-mana. Jutaan orang akan terus bertanya di mana pekerjaan, dan perusahaan akan terus bertanya di mana orangnya.