SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jutaan Pelayat Guncang Teheran, Teriakan 'Matilah...

Internasional

Jutaan Pelayat Guncang Teheran, Teriakan 'Matilah Amerika' Menggelegar di Pemakaman Khamenei

Upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei resmi dimulai di Grand Mosalla, Teheran, dengan jutaan pelayat membawa spanduk merah simbol pembalasan dan teriakan anti-Amerika yang memenuhi udara.

Tangisan Pelayat Saat Peti Jenazah Ayatollah Khamenei Ditampilkan

Teheran, Sabtu pagi. Sebelum matahari benar-benar tinggi, ratusan ribu orang sudah berjejal di halaman Grand Mosalla, kompleks keagamaan terbesar di ibu kota Iran. Mereka membawa spanduk merah, simbol sumpah pembalasan yang dalam tradisi Syiah berarti darah belum terbalas. Teriakan "matilah Amerika" dan "balas dendam, balas dendam" bergema tanpa henti.

Itulah suasana pembukaan resmi upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (4/7/2026), pemimpin tertinggi Iran yang tewas di usia 86 tahun dalam serangan rudal AS-Israel yang menghantam kompleks kediaman sekaligus kantornya di pusat Teheran pada 28 Februari lalu. Bersama Khamenei, sejumlah anggota keluarganya juga gugur dalam serangan yang menandai hari pertama apa yang kemudian dikenal sebagai Perang Iran.

Peti jenazah Khamenei, terbungkus bendera Iran, untuk pertama kalinya muncul di depan publik pada Kamis (2/7) waktu setempat, ditempatkan di sisi husseiniyeh dalam kompleks Grand Mosalla. Acara pra-pemakaman saat itu masih terbatas: keluarga anggota angkatan bersenjata, staf kantor Pemimpin Tertinggi, dan keluarga mereka yang gugur dalam konflik. Televisi pemerintah menyiarkan rekaman tangisan dan teriakan slogan keagamaan para pelayat saat peti jenazah masuk ke ruangan, dengan latar bunga-bunga merah dan hiasan kupu-kupu putih yang tergantung di langit-langit. Kontras yang mencolok antara ornamen yang terasa surgawi dan duka yang berapi-api.

Sejumlah tamu internasional hadir memberikan penghormatan pada Jumat (3/7). Di antara mereka: Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang negaranya bertindak sebagai mediator dalam perundingan Iran-AS; mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev selaku utusan Vladimir Putin; serta perwakilan Hamas, Hizbullah, dan pemerintah Taliban Afghanistan. Satu kehadiran yang menarik perhatian adalah delegasi Arab Saudi, dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Waleed El Khereiji. Di depan peti mati Khamenei, delegasi itu diperdengarkan Surah Ali Imran ayat 13, sebuah ayat tentang dua golongan yang berhadapan dalam pertempuran, dan tentang pertolongan Allah bagi siapa yang Dia kehendaki. Pilihan ayat yang agaknya tidak jatuh secara kebetulan.

Otoritas Iran memperkirakan antara 15 hingga 20 juta orang akan memenuhi Teheran selama tiga hari pertama upacara. Jurnalis AFP melaporkan para pelayat berjalan beberapa kilometer untuk mencapai Grand Mosalla. Ratusan orang bahkan sudah menunggu sejak Jumat malam. "Kami ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada pemimpin kami, itulah sebabnya menunggu seperti ini tidak menyakitkan," kata Somayye Hamedi, salah satu pelayat.

Pengamanan berlapis diterapkan: jalan-jalan diblokir, wilayah udara diperkirakan ditutup sementara. Wali Kota Teheran Alireza Zakani menyebutnya sebagai "perkumpulan terbesar dalam sejarah ibu kota". Ini memang acara publik terbesar di Iran sejak pemakaman pendahulu Khamenei, Ruhollah Khomeini, pada 1989. Tiga puluh tujuh tahun berlalu. Angka yang tidak main-main.

Jadwal enam hari sudah ditetapkan. Peti jenazah disemayamkan di Grand Mosalla hingga Senin, sebelum prosesi melewati jalanan Teheran. Selasa, peti dipindah ke pusat keagamaan Qom. Rabu, perjalanan berlanjut ke kota-kota suci Syiah di Irak. Kamis, pemakaman akhir digelar di Mashhad, kota kelahiran Khamenei di timur laut Iran. Jenazah anggota keluarga yang turut gugur dalam serangan yang sama juga disemayamkan dalam rangkaian ini.

Upacara ini tertunda berbulan-bulan dari jadwal semula di awal Maret, lantaran perang yang baru mereda setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata yang, kalau laporan-laporan itu bisa dipercaya, masih terbilang rapuh. Ketua panitia Ali Akbar Pourjamshidian, perwira tinggi Garda Revolusi, menyebut rangkaian acara ini dirancang untuk "memperkuat persatuan nasional". Apakah itu berhasil, baru ketahuan setelah debu Teheran benar-benar mereda.