MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Jogja Financial Festival 2026: Bukan Sekadar Semin...

Finansial

Jogja Financial Festival 2026: Bukan Sekadar Seminar, Ini Soal Uang yang Diam

Jogja Financial Festival hadir 22-23 Mei 2026 di JEC, menggabungkan edukasi keuangan, job fair, dan hiburan untuk mendorong literasi di tengah maraknya jebakan investasi digital.

Literasi Didorong di Tengah Lonjakan Risiko Investasi

Ironis, tapi itulah faktanya: masyarakat Yogyakarta dikenal paling rajin menabung, tapi justru di situlah masalahnya.

Loan to deposit ratio (LDR) DIY hanya 65% per 2025, sementara surplus dana menumpuk hingga Rp31,4 triliun. Pertumbuhan kredit stagnan di 6,14%, dan sekitar 20% rekening tercatat tidak aktif. Belum lagi 16% penduduk usia produktif yang bahkan belum punya akses perbankan sama sekali.

Simpanan menggunung. Tapi tidak bergerak.

Kondisi itulah yang menjadi salah satu latar belakang digelarnya Jogja Financial Festival 2026, yang akan berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Jalan Raya Janti, Banguntapan, pada 22-23 Mei mendatang. Tiket masuk gratis, tapi konten yang ditawarkan jauh dari gratisan.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menegaskan festival ini bukan seminar biasa. "Ini bukan seminar, sifatnya ekshibisi. Ada edukasi, literasi, job fair, juga hiburan supaya bervariasi," katanya saat menyampaikan keterangan agenda Road to Jogja Financial Festival di GIK UGM, Selasa (12/5). Anggito akan menjadi pembicara keynote di hari pertama.

Di balik format yang santai itu, kekhawatiran yang lebih serius tengah bermain. Kemudahan akses investasi digital, kata Anggito, justru melahirkan generasi yang ceroboh secara finansial. Kalau dulu orang masih timbang-timbang sebelum menaruh uang, kini tiga ketukan di layar sudah cukup untuk masuk ke instrumen yang belum tentu legal. "Jangan sampai mereka masuk ke investasi bodong, investasi iming-iming," tegasnya.

Sasaran utama festival ini memang generasi muda, dengan target kunjungan sekitar 8.000 orang. Jumlah investor pasar modal di DIY sudah menyentuh 300.000 orang, naik sekitar 3% year-on-year, dan sekitar 30% di antaranya mahasiswa. Angka yang agaknya bagus di permukaan. Pertanyaannya, berapa dari mereka yang benar-benar paham apa yang mereka beli?

Rangkaian acara dibagi dalam dua segmen besar. Business Talk menghadirkan deretan nama: Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, hingga Chairul Tanjung yang akan berbagi kisah membangun CT Corp dari nol. Rektor UGM Ova Emilia juga dijadwalkan hadir memberi perspektif akademis.

Educational Class menawarkan sesi yang lebih membumi. Hari pertama ada kelas bertajuk "Financial Survival for Young Generation" yang diisi perwakilan Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, dan LPS secara bersamaan. Pukul 17.00-18.00, Bank Mega menggelar sesi dengan pertanyaan yang langsung menohok: "Kalau Punya Rp10-100 Juta Hari Ini Mau Taruh di Mana?" Sederhana, tapi bisa jadi yang paling relevan buat mayoritas pengunjung.

Hari kedua tak kalah padat. Ada entrepreneur talk yang mempertemukan Chairul Tanjung dengan Dirut BRI Hery Gunardi, dilanjutkan kelas perbankan BNI dan sesi asuransi bertema "Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera" dari OJK, AAJI, dan IFG.

Sebagai pelengkap, penyelenggara menyiapkan Jogja Run D City, stand-up comedy, hingga konser musik. Ari Lasso dan Happy Asmara mengisi malam pertama. Juicy Luicy tampil di hari kedua. Raffi Ahmad dijadwalkan mengisi sesi Inspirational Talks.

Festival ini melanjutkan dua gelaran sebelumnya di Surabaya dan Medan, yang masing-masing berhasil menarik lebih dari 10.000 pengunjung. Jogja, dengan karakter masyarakatnya yang oleh Anggito sendiri disebut "lebih safety first, lebih risk averse", menjadi pasar yang menarik sekaligus tantangan tersendiri. Bak dua sisi mata uang yang sama.

Karena justru mereka yang paling berhati-hati itulah yang paling perlu tahu: hati-hati saja tidak cukup kalau uangnya diam di rekening yang tidak bekerja.