MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jet Tempur Pakistan Mendarat di Saudi, Pakta Perta...

Internasional

Jet Tempur Pakistan Mendarat di Saudi, Pakta Pertahanan September 2025 Mulai Ditagih

Jet tempur dan pesawat pendukung Pakistan mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Arab Saudi, Sabtu 11 April 2026, mengaktifkan klausul pertahanan bersama yang ditandatangani kedua negara September tahun lalu.

Jet tempur Pakistan kini parkir di Pangkalan Udara King Abdulaziz, sektor Timur Arab Saudi. Bukan kunjungan biasa.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi secara resmi mengumumkan kedatangan unit militer Pakistan itu pada Sabtu, 11 April 2026. Pengerahan ini pelaksanaan langsung dari Strategic Mutual Defense Agreement yang ditandatangani kedua negara pada 17 September 2025. Tujuannya: meningkatkan koordinasi militer bersama, mempertajam kesiapan operasional angkatan bersenjata kedua pihak, sekaligus menopang keamanan dan stabilitas kawasan.

Pakta itu bukan sembarangan perjanjian. Klausulnya tegas dan tidak bisa salah dibaca: serangan terhadap salah satu negara diperlakukan sebagai serangan terhadap keduanya. Bunyinya sangat mirip Pasal 5 NATO, hanya dalam konteks Timur Tengah dan Asia Selatan.

Kesepakatan ini diteken saat PM Pakistan Shehbaz Sharif berkunjung ke Riyadh dan bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Dua pemimpin yang sudah lama membangun kedekatan strategis di banyak sektor, kini memberi gigi militer pada hubungan itu.

Jujur saja, timing-nya tidak bisa diabaikan.

Pengerahan jet tempur ini berlangsung tepat ketika meja perundingan AS-Iran sedang dibentangkan di Islamabad. Pakistan bertindak sebagai tuan rumah sekaligus mediator aktif dalam upaya meredam konflik yang sudah membara beberapa pekan. Api itu pertama menyala sejak Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke target-target yang disebut sebagai kepentingan Amerika di negara-negara Teluk, sebagai respons atas operasi AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari.

Arab Saudi, yang paling merasakan getaran eskalasi ini, agaknya tidak berniat sekadar menonton. Mengundang Pakistan, negara yang memiliki senjata nuklir, untuk hadir secara fisik di wilayahnya adalah sinyal keras bagi siapa pun yang mau membacanya.

Dua meja sekaligus. Pakistan bermain di keduanya: satu kaki sebagai mediator diplomatik AS-Iran, satu kaki lagi sebagai kekuatan militer yang kini berdiri di sisi Riyadh. Kombinasi yang rumit, tapi boleh jadi itulah justru nilai tawarnya di krisis ini. Posisi yang hanya bisa dimainkan negara yang dipercaya lebih dari satu pihak sekaligus.

Apakah kehadiran jet tempur Pakistan cukup untuk meredam kalkulasi pihak-pihak yang masih menimbang eskalasi lebih jauh? Pertanyaan itu belum ada jawabnya.