Tujuh Mei lalu, Uni Emirat Arab mengumumkan sesuatu yang tidak biasa: jet-jet tempur Mesir kini bercokol di wilayahnya. Pengumuman itu bertepatan persis dengan kunjungan Presiden Abdel Fattah el-Sisi ke Abu Dhabi, timing yang agaknya bukan kebetulan.
Iran memilih merespons dengan nada kalem, setidaknya di permukaan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, tampil di konferensi pers Senin dan menegaskan hubungan Teheran-Kairo berjalan di atas prinsip saling menghormati. Komunikasi dua arah antara menteri luar negeri kedua negara, klaimnya, masih berjalan baik.
Tapi ada satu kalimat yang lebih keras dari basa-basi diplomatik biasa. Baghaei menyebut Iran "menolak segala bentuk campur tangan yang dapat merusak keamanan dan kepercayaan regional, tanpa memandang pihak yang melakukannya." Teguran yang dibalut kesopanan. Dan langsung ia susul dengan klaim lain: persoalan keamanan kawasan, tegasnya, adalah urusan negara-negara kawasan itu sendiri. Kalimat yang bisa dibaca sebagai peringatan halus kepada pihak luar agar tidak ikut bermain.
Latar belakangnya brutal. Sepanjang awal Mei 2026, sistem pertahanan udara UEA mencegat 15 rudal dan empat drone yang diluncurkan dari wilayah Iran. Senin, 4 Mei saja: 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, empat drone. Tiga warga terluka. Tiga hari berselang, gelombang serangan baru dari arah yang sama, lagi-lagi melukai tiga orang.
Teheran membantah semua tuduhan itu.
Buntutnya, UEA menegaskan punya "hak penuh dan sah" untuk merespons. Respons itu rupanya tidak berhenti di jet tempur Mesir. Laporan beredar bahwa Abu Dhabi secara diam-diam sudah melancarkan serangan balasan ke kilang minyak di Iran. Senyap, tanpa deklarasi.
Polanya menarik, kalau bisa dibilang begitu. UEA memilih eskalasi terukur: menggandeng Mesir secara terbuka sebagai sinyal geopolitik, sambil merespons secara militer tanpa mengumumkannya. Dua jalur sekaligus.
Dari sisi Teheran, framing yang dipilih tetap tenang. Entah kebetulan atau tidak, nada itu justru bikin pertanyaan makin menggantung: apakah kehadiran jet tempur Mesir di UEA akan mengubah kalkulasi Iran, atau malah memperumit upaya deeskalasi yang dari awal sudah tipis?