MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jet Tempur Korsel Scramble Saat 10 Pesawat China-R...

Internasional

Jet Tempur Korsel Scramble Saat 10 Pesawat China-Rusia Terobos KADIZ

Sedikitnya 10 pesawat militer China dan Rusia memasuki zona identifikasi pertahanan udara Korea Selatan pada Sabtu, memaksa Seoul mengerahkan jet tempur. Ini sudah patroli udara gabungan ke-11 antara Beijing dan Moskow di kawasan Asia Timur.

Korsel Kerahkan Jet Tempur Usai Pesawat China-Rusia Masuk Zona ADIZ

Sabtu pagi, 27 Juni 2026, radar militer Korea Selatan menangkap manuver yang sudah mulai terasa familiar: belasan pesawat militer China dan Rusia menerobos Korea Air Defense Identification Zone (KADIZ) di atas Laut Timur dan Laut Selatan. Kepala Staf Gabungan (JCS) Seoul langsung memerintahkan scramble jet tempur Angkatan Udara.

Sedikitnya 10 pesawat terlibat. Mereka masuk ke KADIZ secara bergantian sebelum akhirnya hengkang dari zona tersebut. JCS menegaskan tidak ada satu pun pesawat yang melanggar wilayah udara kedaulatan Korea Selatan, dan secara teknis memang tidak, karena KADIZ bukan wilayah udara teritorial, melainkan buffer zone untuk identifikasi dini ancaman.

"Militer Korea Selatan telah mendeteksi pesawat-pesawat China dan Rusia tersebut sebelum mereka memasuki zona pertahanan, dan langsung mengerahkan jet tempur Angkatan Udara untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan," tulis JCS dalam pernyataan resminya.

Dari sisi Beijing dan Moskow, ini bukan provokasi. Kementerian Pertahanan China mengonfirmasi bahwa patroli udara strategis gabungan ke-11 digelar pada hari yang sama, mencakup Laut Jepang, Laut China Timur, dan bagian barat Samudra Pasifik. Xinhua mengutip pernyataan Beijing bahwa patroli digelar di "wilayah udara yang relevan" sebagai wujud tekad bersama menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Framing yang, agaknya, tidak akan mudah ditelan Seoul maupun Tokyo.

Desember 2025 lalu, sembilan pesawat militer China dan Rusia melakukan manuver serupa. Respons dari kedua negara tetangga keras: Seoul melayangkan protes resmi ke Beijing dan Moskow, sementara Tokyo menyuarakan keprihatinan serius soal keamanan nasional. Waktu itu, China dan Rusia berdalih penerbangan tersebut bagian dari patroli bersama di atas Laut Timur dan Pasifik barat. Argumen yang sama kini dipakai lagi, dengan satu tambahan catatan: ini sudah seri ke-11.

Angka yang tidak main-main. Frekuensi patroli gabungan China-Rusia di kawasan ini terus merapat dalam dua tahun terakhir, dan tiap iterasi mendorong Seoul memvalidasi prosedur respons cepatnya. JCS sendiri menilai masuknya pesawat-pesawat itu ke KADIZ kemungkinan besar bagian integral dari latihan udara gabungan yang tengah berjalan, bukan manuver dadakan.

Hingga berita ini diturunkan, Beijing maupun Moskow belum merespons insiden dari sudut pandang Korea Selatan. Secara hukum, notifikasi memang tidak diwajibkan sebelum memasuki ADIZ negara lain. Tapi secara diplomatik, justru di situ letak soalnya: kalau ini benar-benar patroli rutin, mengapa tidak ada pemberitahuan? Itu yang membedakan patroli dari provokasi, setidaknya di mata Seoul.