Kegagalan Jerman mengamankan kursi di Dewan Keamanan PBB dalam pemungutan suara Rabu (4/6/2026) barangkali menjadi salah satu hasil paling mengejutkan di koridor Markas Besar PBB New York dalam beberapa tahun terakhir. Negara yang selama ini dikenal sebagai kontributor dana terbesar kedua bagi PBB itu harus pulang dengan tangan kosong, kalah bersaing di kelompok Western European and Others Group (WEOG) oleh Portugal dan Austria.
Dalam slot WEOG yang memperebutkan dua kursi, Portugal memimpin dengan 134 suara, diikuti Austria dengan 131 suara. Jerman hanya mengumpulkan 104 suara, jauh dari ambang dua pertiga yang dipersyaratkan. Bukan sekadar kekalahan angka. Ini tamparan diplomatik yang cukup keras, mengingat Berlin sebelumnya berkampanye habis-habisan dan selalu tampil sebagai favorit di setiap voting serupa.
Lantas apa yang salah? Agaknya posisi Jerman terkait konflik Gaza menjadi faktor penentu yang tidak bisa diabaikan. Banyak analis menilai dukungan Berlin yang dinilai terlalu condong ke Israel telah menggerus simpati negara-negara berkembang, yang justru menjadi mayoritas pemilih di Majelis Umum. Kalkulasi diplomasi Jerman makin ruwet karena kampanye untuk kursi ini dipimpin langsung oleh Annalena Baerbock, yang kini menjabat sebagai Presiden Sidang ke-80 Majelis Umum PBB setelah mundur dari posisi menteri luar negeri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pun tidak membuang kesempatan. Ia menyebut Baerbock sebagai figur yang "terbukti lebih banyak menghambat daripada membantu."
Sementara kisah pahit Jerman mendominasi pemberitaan, ada cerita tak kalah menarik dari sisi lain. Di kelompok Asia-Pasifik, Kirgistan dan Filipina harus menjalani empat putaran pemungutan suara sebelum pemenang ditentukan. Kirgistan akhirnya meraih 142 suara, melampaui ambang dua pertiga, sementara Filipina hanya mengantongi 49 suara. Kali pertama dalam sejarah Kirgistan akan duduk di Dewan Keamanan sejak negara itu merdeka.
Lima anggota tidak tetap baru yang mulai bertugas per 1 Januari 2027 adalah Austria, Portugal, Kirgistan, Zimbabwe, dan Trinidad dan Tobago. Zimbabwe menggantikan Somalia sebagai wakil kelompok Afrika, Trinidad dan Tobago mengambil alih slot Amerika Latin dan Karibia dari Panama, sedangkan Portugal dan Austria menggantikan Denmark serta Yunani. Kirgistan sendiri mengisi kursi yang ditinggalkan Pakistan. Mereka akan berdampingan dengan anggota tidak tetap yang masih menjabat hingga akhir 2027: Bahrain, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Latvia, dan Liberia.
Dewan Keamanan adalah satu-satunya organ PBB dengan kewenangan mengeluarkan keputusan yang mengikat secara hukum internasional, mulai dari penjatuhan sanksi hingga otorisasi penggunaan kekuatan militer. Komposisi anggota tidak tetapnya, meski tanpa hak veto seperti lima anggota tetap (AS, Rusia, China, Prancis, Inggris), kerap mewarnai dinamika negosiasi dan lobi di dalam badan paling berkuasa di sistem multilateral global itu.
Bagi Jerman, kekalahan ini bisa jadi sinyal keras bahwa reputasi sebagai pemain multilateral terkemuka tidak otomatis bisa dibeli dengan besarnya kontribusi anggaran. Di arena suara mayoritas, keberpihakan pada isu-isu yang sensitif bagi negara-negara Selatan Global ternyata bisa lebih menentukan. Catatan finansial di laporan tahunan sekretariat PBB, kalau data ini bisa dipercaya sebagai modal diplomasi, rupanya tidak cukup.