SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jerman Genjot Lobi ke Negara Teluk di Tengah Gunca...

Internasional

Jerman Genjot Lobi ke Negara Teluk di Tengah Guncangan Energi Akibat Perang Iran

Berlin mengubah haluan diplomasi dengan gencar mendekati negara-negara Teluk setelah konflik AS-Israel-Iran mengguncang pasokan energi global dan menutup Selat Hormuz.

Strait of Hormuz issue must be resolved through diplomacy, says German foreign minister | Reuters

Pekan lalu bukan pekan biasa bagi Kementerian Luar Negeri Jerman. Dalam tujuh hari, Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Syekh Abdullah bin Zayed, Putra Mahkota Yordania Hussein bin Abdallah, hingga Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, rangkaian yang oleh Kemlu Jerman sendiri disebut sebagai pekan yang padat dan luar biasa.

Ini bukan sekadar protokoler rutin. Di balik jadwal padat Wadephul ada kalkulasi geopolitik yang jauh lebih serius, satu yang dipicu langsung oleh perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang meletus hampir dua bulan lalu.

Kanselir Friedrich Merz sudah memberi sinyal sejak akhir April. Usai rapat internal partai CDU di Berlin, ia mengaku kecewa terhadap pendekatan Washington dan Tel Aviv. Harapan awal bahwa Donald Trump dan Benjamin Netanyahu bisa menutup konflik ini dengan cepat ternyata meleset jauh. "Karena itu kami, sebagai bagian dari Eropa, ingin terus mendorong solusi diplomatik. Kami tetap berkoordinasi erat dengan pihak Amerika, tetapi juga memiliki gagasan Eropa sendiri mengenai bagaimana konflik ini harus diselesaikan," kata Merz.

Fokus utama Berlin kini diarahkan ke negara-negara Teluk, kawasan yang paling terdampak secara langsung oleh konflik berkepanjangan ini. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memukul jalur energi global, dan negara-negara Teluk, yang selama ini membangun model ekonomi mereka di atas stabilitas kawasan, semakin gelisah menghadapi eskalasi yang tak kunjung reda, termasuk dukungan Rusia terhadap Iran yang membuat kalkulasi geopolitik makin rumit.

Max Hofmann, kepala biro DW di Berlin, menyebut pendekatan Wadephul bertumpu pada satu hal utama: kepercayaan. AS, menurut Hofmann, kini dipandang gagal menjalankan peran tradisionalnya sebagai pelindung kawasan. "Tidak semua negara Teluk bisa dipukul rata, tetapi inti persoalannya adalah soal keandalan," ujarnya. "Strategi mereka untuk menjadi mediator antara Iran dan Barat telah gagal. Dalam situasi seperti ini, Jerman kembali terlihat menarik karena tetap berpegang pada tatanan internasional berbasis aturan," lanjut Hofmann.

Berlakunya prinsip itu agaknya sudah terasa jauh sebelum perang pecah. Philipp Dienstbier, kepala program regional Konrad-Adenauer-Stiftung di Amman, mengingatkan bahwa Merz dan Menteri Ekonomi Katherina Reiche sudah menyambangi kawasan Teluk untuk menjajaki kerja sama strategis jangka panjang, bahkan sebelum situasi memanas seperti sekarang. "Ini menunjukkan bahwa kawasan Teluk memang sudah berada di posisi penting dalam agenda Berlin," kata Dienstbier. Artinya, lobi Jerman ke kawasan ini bukan reaksi dadakan.

Pertemuan dengan Sultan Brunei punya dimensi tersendiri. Brunei saat ini memegang presidensi ASEAN, blok yang sangat terdampak oleh penutupan Selat Hormuz. Pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu menjadi agenda mendesak, sekaligus kepentingan langsung Jerman sebagai negara industri besar yang bergantung pada arus perdagangan global. "Cepat atau lambat selat itu akan dibuka kembali. Negara-negara Teluk juga sedang mengembangkan rute transportasi alternatif," kata Hofmann. "Dalam jangka panjang, kawasan ini bahkan bisa memainkan peran penting sebagai pemasok hidrogen hijau bagi Jerman."

Wadephul juga menggelar konferensi keamanan energi Ukraina di kantornya, menghadirkan perwakilan Kementerian Ekonomi. Selama lebih dari empat tahun berperang melawan Rusia, Ukraina dinilai berhasil mengembangkan cara melindungi infrastruktur energinya dari serangan luar. Pengalaman yang kini dianggap sangat relevan untuk diadopsi Berlin.

Dienstbier menilai dukungan politik saja tidak cukup. "Jerman harus menawarkan kerja sama yang lebih erat di bidang pertahanan udara dan penanggulangan drone," ujarnya. Klaim yang masih perlu dibuktikan dengan langkah nyata.

Ada satu variabel lagi yang membuat ritme diplomasi Berlin terasa makin tinggi: kursi tidak tetap di Dewan Keamanan PBB. Majelis Umum PBB akan memungut suara pada 3 Juni mendatang, dan untuk slot Eropa, Jerman bersaing dengan Austria dan Portugal. Hasilnya masih terlalu dekat untuk diprediksi. Setiap jabat tangan di Berlin pekan ini, entah kebetulan atau tidak, bisa jadi modal suara yang berharga.