SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Jensen Huang Traktir Antrean Jagung Bakar di Taipe...

Internasional

Jensen Huang Traktir Antrean Jagung Bakar di Taipei, Viral dan Bikin Debat

CEO NVIDIA Jensen Huang mendadak viral setelah mengunjungi Pasar Malam Raohe di Taipei dan menawarkan membayari seluruh antrean jagung bakar, asal ia bisa mendapat giliran pertama.

Demi Jagung Bakar, Bos NVIDIA Jensen Huang Traktir Antrean 1 Pasar Malam

Minggu malam, 24 Mei 2026, Jensen Huang muncul di Raohe Street Night Market, Taipei, bukan sebagai bos perusahaan chip senilai triliunan dolar, tapi sebagai pria berkaos hitam dan celana jeans putih yang ingin makan jagung bakar. Antrean di lapak itu sudah mengular panjang.

Huang tidak menunggu. Ia mengeluarkan uang tunai dan menawarkan kesepakatan kilat kepada penjual dan pembeli di depannya. "Saya bayari semua orang, boleh enggak saya dapat duluan?" katanya sambil tersenyum. Tawaran itu disambut tawa dan sorak dari kerumunan yang kian membesar setelah warga sekitar mengenali siapakah dia.

Pedagang sempat menjelaskan bahwa sebagian pembeli sudah membayar pesanan masing-masing, tapi Huang tetap kukuh menanggung semuanya. Satu kantong jagung bakar pun diserahkan lebih awal kepadanya. Sambil menenteng jagung itu, ia menoleh ke antrean. "Boleh ya?" Semua orang serentak setuju. Gigitan pertama langsung dilahap di tempat, disusul seruan "haochi", enak, dalam bahasa Mandarin.

Video momen itu, diunggah ulang akun X @CryptoMaster_70, sudah ditonton lebih dari 1,3 juta kali hingga Rabu (27/5/2026).

Reaksi warganet terbelah, seperti biasa. Kubu yang santai bilang ini bukan menyerobot antrean karena Huang membayari semua orang, jadi semua pihak diuntungkan. "Kalau kamu membayari semua orang di antrean, itu sebenarnya bukan motong antrean," tulis salah satu pengguna X. Akun lain bergurau: "Apa gunanya jadi miliarder kalau tidak bisa melakukan hal-hal ala miliarder?"

Tapi tidak sedikit yang keberatan. Sebagian pengguna menilai tindakan itu tetap mencerminkan penggunaan uang untuk membeli prioritas, hak yang tidak dimiliki orang biasa. "Saya dulu menghormatinya, tapi ini terasa seperti dia percaya uang bisa membeli privilese apa pun," tulis seorang pengguna. Yang lain mengingatkan bahwa budaya antre bukan sekadar soal siapa yang bayar lebih banyak.

Jagung bakar bukan satu-satunya yang dicicipi Huang malam itu. Dalam unggahan akun resmi @nvidianewsroom, ia juga tampak menyantap bakpao lada Hu Jiao Bing di gerai Fuzhou Shizu, salah satu kedai paling ikonik di Raohe, lalu berfoto dengan dua mangkuk es serut topping mangga segar khas Taiwan. Kunjungan yang cukup lengkap, kalau memang itu tujuannya.

Kebiasaan Huang menjelajahi warung makan sederhana saat kunjungan kerja bukan hal baru. Di Beijing beberapa waktu lalu, ia tertangkap kamera menyantap mi zhajiangmian di sebuah restoran kecil, dan pemilik warung itu sampai meluncurkan menu baru bernama "God of War in leather jacket" sebagai penghormatan terhadap jaket kulit hitam yang sudah jadi semacam seragam tidak resminya.

Ada yang mengaitkan kedekatan Huang dengan makanan jalanan ke masa mudanya. Sebelum NVIDIA jadi salah satu perusahaan teknologi paling berharga di dunia, ia pernah bekerja sebagai pencuci piring dan pelayan di jaringan restoran Denny's di Portland saat masih remaja. Kekayaannya kini ditaksir sekitar 189,6 miliar dollar AS, setara Rp 3.355 triliun. Selera makannya, agaknya, tidak jauh berubah.

Pertanyaan yang lebih menarik mungkin bukan soal etika antre. Seberapa sering miliarder kelas dunia mau repot-repot berdiri di antrean pasar malam, bayar tunai, dan makan sambil berdiri? Untuk konteks itu, bisa jadi reaksi keras sebagian warganet terasa sedikit berlebihan.