Sejak Mohammad Pakpour gugur dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, hari pertama perang meletus, kursi itu tidak lama kosong. Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengisi kekosongan tersebut, dan para pengamat segera menyadari betapa berbedanya arah yang ia bawa.
Vahidi bukan nama baru di radar intelijen Barat. Interpol sudah memburu jenderal ini lebih dari tiga dekade atas dugaan keterlibatannya dalam pemboman pusat komunitas Yahudi di Buenos Aires, Argentina, pada 1994, serangan yang merenggut 85 nyawa. AS sendiri telah menjatuhkan sanksi kepadanya atas perannya meredam gelombang protes domestik di Iran. Rekam jejak yang cukup untuk membuat sebagian besar orang menghilang dari panggung. Vahidi justru semakin naik.
Posisinya bukan sekadar pengganti teknis. Di bawah kendalinya, IRGC memperketat cengkeramannya di pos pemeriksaan minyak yang menjadi urat nadi energi global, dan tuntutan Teheran kepada Washington kini jauh melampaui draf negosiasi sebelumnya. Bukan sinyal yang menenangkan bagi delegasi yang duduk di meja perundingan.
Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group, menggambarkan Vahidi sebagai sosok berpengaruh yang tetap bekerja dalam koridor sistem kolektif Republik Islam. "Keputusan dibuat secara konsensual dan tidak diragukan lagi Vahidi memiliki suara yang sangat lantang di ruangan itu," kata Vaez, dikutip dari CNN. Ia menambahkan bahwa pengaruh sang jenderal berlipat ketika negara sedang dalam kondisi perang.
Dari sudut pandang intelijen Israel, penilaiannya lebih tajam. Danny Citrinowicz, mantan kepala cabang Iran di intelijen militer Israel, menyebut Vahidi sebagai figur dominan yang berkomitmen keras pada prinsip Revolusi Islam. "Anda tidak bisa menyepakati sesuatu tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu," kata Citrinowicz kepada CNN. Ia juga menggambarkan Vahidi sebagai orang yang tak akan gentar jika Trump memilih jalan konfrontasi terbuka. Bukan gertakan kosong.
Buktinya sudah tertulis. Pada 20 Mei lalu, Vahidi melempar peringatan keras melalui X: jika terjadi agresi lebih lanjut terhadap wilayah Iran, api yang semula terbatas pada kerangka perang regional akan berkobar melampaui setiap perbatasan. "Kalian akan menerima pukulan yang menghancurkan," tulisnya, menurut media Iran.
Wajah publik negosiasi Iran memang bukan Vahidi. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang biasa tampil di depan kamera. Tapi beberapa analis meyakini Vahidi mendorong sejumlah posisi garis keras itu dari balik layar, semacam arsitek yang tidak mau berfoto di depan bangunannya.
Riwayatnya panjang dan berliku. Vahidi pernah menjabat komandan pertama Pasukan Quds, unit elit IRGC, sebelum merangkap posisi lain: wakil kepala IRGC, menteri pertahanan, hingga menteri dalam negeri. Yang menarik, ia juga dilaporkan pernah menjalin kontak dengan pihak Israel pada 1980-an dalam skandal Iran-Contra, skema penjualan senjata yang melibatkan AS dan Israel untuk mendanai pemberontak Contra di Nikaragua. Ironi yang tidak kecil.
Sejumlah pendahulunya sudah berakhir di tangan AS atau Israel. Qasem Soleimani adalah nama yang paling dikenal. Awan itu agaknya juga menggantung di atas Vahidi, kalau data dan pola sejarah ini bisa dijadikan patokan, tapi sejauh ini ia tetap bergerak.
Apakah kehadirannya benar-benar menjadi tembok yang menghalangi kesepakatan? Para ahli belum bulat. Belum ada bukti konkret Vahidi secara aktif menyabotase perundingan, setidaknya itu yang terbaca dari sumber-sumber terbuka. Yang jelas, selama ia memegang kendali, posisi tawar Teheran tidak bergerak ke arah yang membuat Washington nyaman.